Pages

Sunday, May 23, 2021

Dari Jualan Online, UMKM Sukses Punya Pabrik

Dari Jualan Online, UMKM Ini Sukses Punya Pabrik di Malang-Ngawi


Hiasan dinding kayu kian banyak peminatnya. Tidak heran apabila usaha kerajinan kayu memiliki prospek yang terbilang menjanjikan. Peluang inilah yang coba dimanfaatkan oleh pemuda asal Malang bernama Bara Yogya Angkasa. Dari yang semula hanya dijajakan ke keluarga dan sahabat dekat, kini bisnis Wooden Projects miliknya semakin berkembang pesat hingga berhasil punya pabrik di sejumlah kota di Jawa Timur.

Bara menjelaskan inspirasi usaha Wooden Projects muncul karena tertarik dengan produk hiasan dinding yang dijual di kegiatan Car Free Day (CFD) yang diadakan setiap Minggu pagi sebelum pandemi. Dari sana Bara giat belajar untuk membuat hiasan dinding sendiri.

Kemudian hasil kreasinya dia coba tawarkan ke saudara dan teman dekat pada tahun 2017. Membuahkan hasil, Bara pun mencoba peruntungannya kembali dengan menjual produk tersebut di acara CFD.

Siapa sangka ternyata produk hiasan dinding Wooden Projects mendapat sambutan positif dari masyarakat. Kemudian Bara dihubungi oleh Shopee dan diajak berjualan secara online. Akhirnya dia memutuskan untuk bergabung di Shopee pada tahun 2017.

Diakui Bara, sejak berjualan online melalui Shopee bisnis Wooden Projects semakin melejit. Dia menjelaskan sebanyak 80 persen dari penjualannya datang dari Shopee. Hal ini karena deretan kampanye besar yang diadakan Shopee yang dinilainya efektif mendorong pembeli untuk berbelanja di Wooden Projects. Selain itu, fitur yang dihadirkan, seperti flash sale, diskon, gratis ongkir juga menjadi faktor yang menarik pembeli untuk melirik produk hiasan dindingnya.

"Berbagai program dan kampanye besar yang ditawarkan oleh Shopee seperti Big Ramadhan Sale, 9.9, 12.12 dan Kampanye Hari Puncak serta kampanye 6.6 Rumah dan Hobi Sale yang sedang berlangsung sampai tanggal 6 Juni membantu meningkatkan kenaikan penjualan hiasan dinding yang ada di Wooden Projects dengan berbagai promo menarik," ujar Bara dalam keterangan tertulis, Sabtu (22/5/2021).

Selama periode kampanye, Bara mengaku penjualannya naik sampai dengan 30 kali lipat. Bahkan di awal pandemi bisnis miliknya tetap mencatatkan kenaikan penjualan hingga 2 kali lipat. Di samping itu, ada pula Brand Festival yang juga memberikan manfaat signifikan bagi perkembangan bisnis Wooden Projects.

Diketahui saat ini, Wooden Projects telah memiliki offline store di Malang yang dibuka sejak akhir tahun 2018. Tidak hanya itu saja, Bara juga sukses melakukan ekspansi pabrik dari yang sebelumnya hanya ada di Malang kini meluas hingga Ngawi.

Setelah bergabung bersama Shopee, Bara merasa bahwa Shopee sangat membantu proses dari awal mulai bergabung. Mulai dari pendaftaran akun, upload produk, pengelolaan produk dan masih banyak bantuan yang didapatkan selama menjalankan bisnisnya di Shopee. Program dan komunikasi yang diberikan oleh Shopee menurut Bara juga berjalan dengan sangat baik.

Bara mengaku senang dan bangga karena bisa mempekerjakan 115 karyawan yang sebagian besar berasal dari masyarakat lokal dan rata-rata merupakan tamatan SMA. Tidak hanya membuka kesempatan bekerja, dia juga aktif memberikan pelatihan dan edukasi terkait kiat membangun bisnis kepada karyawannya. Dia merasa bersyukur karena kontribusinya bisa bermanfaat untuk menggerakkan roda perekonomian setempat.

"Sampai akhirnya pada bulan Juli 2020, Wooden Projects dapat melakukan ekspor pertama. Ini merupakan hal yang sangat tidak disangka, bantuan dan naungan dari Shopee bisa membawa Wooden Projects sampai ke titik ini," terangnya.

Melalui program ekspor ini, Wooden Projects sudah menjual ratusan hiasan dinding ke beberapa negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, dan Filipina. Dikatakan Bara program ekspor Shopee membuka peluang bagi dirinya untuk melihat minat para pembeli dari luar negeri terhadap produk-produk Wooden Projects.

"Program ekspor yang diberikan oleh Shopee membuat produk hiasan dinding Wooden Projects dapat merambah ke pasar global. Hal ini tidak terlepas dari bantuan yang diberikan oleh Shopee. Saya merasa sangat senang dengan edukasi, pelatihan dan pendampingan yang selama ini diberikan oleh Shopee mengenai berbagai hal tentang ekspor. Ini merupakan awal yang baik bagi perjalanan Wooden Projects dalam mengekspor produk, semoga ke depannya penjualan Wooden Projects terus meningkat melalui program ekspor Shopee ini," tandasnya.

Shopee membawa produk lokal menuju global melalui berbagai kolaborasi yang dilakukan, seperti peresmian Kampus UMKM Shopee Ekspor di Surakarta sebagai lanjutan kolaborasi strategis untuk membawa UMKM Surakarta untuk bisa ekspor dengan mewujudkan 10.000 eksportir asal Surakarta pada akhir tahun ini.

Selain itu Shopee melakukan kolaborasi dengan Sekolah Ekspor, asosiasi gabungan antara Kamar Dagang dan Industri Indonesia serta Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (SMESCO) untuk mewujudkan 500.000 eksportir hingga tahun 2030. Program dimulai awal Maret 2021 yang juga didukung Kementerian Koperasi dan UKM dan Kementerian Perdagangan.

Ke depan, Bara akan terus fokus untuk mengembangkan bisnis Wooden Projects di Shopee dan akan merambah ke produk-produk lainnya yang berbasis kayu seperti alat masak dan makan, rak, tempat penyimpanan barang dan lain-lain.


Sumber :

https://finance.detik.com/solusiukm/d-5579074/dari-jualan-online-umkm-ini-sukses-punya-pabrik-di-malang-ngawi

Wednesday, May 5, 2021

Industri dan UMKM Sama-sama Untung

Begini Cara Biar Industri dan UMKM Sama-sama Untung

Kemitraan antara industri dengan petani dan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) sebagai pemasok bahan baku dan bahan baku penolong dalam neraca komoditas perlu didorong. Hal ini penting untuk memastikan proses penyerapan komoditas di dalam negeri dapat berjalan optimal.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Danang Girindrawardana, menjelaskan petani, peternak, dan UMKM merupakan pihak-pihak yang selama ini banyak berkutat dengan bahan baku industri. Ia mencontohkan, industri pengolahan susu membutuhkan pasokan bahan baku yang sangat besar.

Namun, pengusaha kerap kesulitan mengetahui jumlah produksi dan kualitas bahan baku yang mampu dihasilkan dari dalam negeri.

"Untuk mendapatkan data peternak susu, peternak sapi itu sulitnya bukan main, sehingga industri hanya bisa menyerap 20% dari dalam negeri dan 80% impor," kata Danang dalam keterangannya, Minggu (21/3/2021).

Hal yang sama juga terjadi pada komoditas lain seperti tembakau. Dengan ketidakpastian tersebut, pelaku usaha tetap berupaya untuk menjaga keberlanjutan operasional dengan berbagai solusi pasokan bahan baku, sehingga memungkinkan proses produksi tidak berhenti.

Danang menjelaskan, terkait bahan baku dan bahan penolong, industri membutuhkan dua jenis data yaitu jumlah produksi (kuantitas) dan kualitas produknya. Proses kemitraan yang dibangun antara industri dengan petani sebagai pemasok dipercaya mampu membantu menyelesaikan dua kebutuhan tersebut. Selain kemitraan, akurasi data dalam neraca komoditas juga mutlak diperlukan.

Selama ini, sering kali terjadi kekeliruan di lapangan terhadap data bahan baku atau bahan baku penolong yang diperlukan oleh industri.

"Ini harus menjadi fokus penyusunan neraca komoditas," ungkap Danang.

Asisten Deputi Pengembangan Industri Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Atong Soekirman, menambahkan neraca komoditas nantinya akan memiliki beberapa fungsi. Pertama, neraca komoditas sebagai referensi tunggal bagi para pemangku kepentingan, termasuk industri, di mana seluruh proses pembuatan kebijakan akan berdasarkan pada data.

Neraca komoditas, lanjutnya, tidak lagi hanya diperlakukan sebagai kebijakan sektor hilir, melainkan dapat menjadi kebijakan sektor hulu. Maksudnya, neraca ini tidak hanya memuat data jumlah, tetapi juga menyangkut kualitas dari sebuah komoditas tertentu.

Dengan demikian, produsen bahan baku industri tidak hanya mampu memenuhi kuantitas yang dibutuhkan, melainkan juga kualitas yang disyaratkan.

Kedua, neraca komoditas akan menjadi dasar pengambilan keputusan pemerintah baik presiden maupun menteri. Kebijakan tersebut antara lain menyangkut jumlah pasokan, sebaran komoditas, harga, hingga dukungan logistik yang dibutuhkan.


Sumber :

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5502187/begini-cara-biar-industri-dan-umkm-sama-sama-untung