Pages

Friday, February 4, 2022

Ayam Geprek Sa'i

Pedasnya bisnis Ayam Geprek Sa'i

Jumat, 10 November 2017 / 10:15 WIB

 
Sensasi rasa renyah kulit berbalut tepung krispi membuat sajian ayam geprek naik daun. Dari Yogyakarta, gerai ayam geprek muncul di kota-kota lainnya.

Tidak ingin tertinggal, Erwan Barudi menjajal bisnis ini lewat Ayam Geprek Sa'i pada April 2017 lalu di Yogyakarta. Dia sekaligus menawarkan kemitraan. Kini, sudah ada 29 gerai yang tersebar di Yogya, Blitar, Jombang, Demak dan Palu.

Erwan menyajikan ayam geprek dengan harga Rp 9.000 hingga Rp 15.000 per paket, yang terdiri dari nasi, ayam dan minum. Ada lebih dari 15 menu yang dia sediakan, termasuk nasi goreng, dan steik geprek.

Dia mengklaim kelebihan produknya adalah bumbu yang meresap ke dalam daging, hingga gurihnya sangat terasa. Selain itu, racikan sambal dari bahan baku segar. Resepnya istimewa.  

Ayam Geprek Sa'i menawarkan kemitraan dengan paket Rp 150 juta. Fasilitas yang diperoleh mitra adalah renovasi lokasi, perlengkapan, bahan baku, pelatihan, branding, sistem dan perlengkapan lainnya.

Lokasi gerai minimal 100 m2 atau menampung 40-60 kursi. Kebutuhan karyawan sekitar 12 orang.  

Sistem kemitraan ini adalah bagi hasil dari keuntungan bersih. Komposisinya, 35% untuk manajemen dan 65% untuk mitra. Perhitungan balik modal, paling lama dua tahun. Asalkan, gerai mitra bisa memenuhi target penjualan Rp 3 juta per hari. Keuntungan berkisar 10%-13% dari omzet.

Djoko Kurniawan , Konsultan Usaha menilai potensi kuliner ayam geprek memang besar, namun masih sulit menggeser posisi ayam tepung yang jangkauan pasarnya lebih besar.

Sayang, harga pokok Ayam Geprek Sa'i terlalu tinggi, hingga profit terbilang mungil. Apalagi, jika masih dibagi antara manajemen dan mitra.

Agar semua bisnis berjalan, maka manajemen wajib mempertahankan kualitas rasa dan standart pelayanan. Pemilihan lokasi serta pengiriman bahan baku utama pun juga wajib mendapatkan perhatian khusus karena, berhubungan dengan ketersediaan bahan baku dan jangkauan market. Baru setelah itu adalah sistem kontrol yang harus dilakukan secara periodik.


Sumber :
https://peluangusaha.kontan.co.id/news/pedasnya-bisnis-ayam-geprek-sai

Tuesday, February 1, 2022

UMKM Masuk Ekosistem Digital di Tahun 2022

Kemenkop Targetkan 20 Juta UMKM Masuk Ekosistem Digital di Tahun 2022

Selasa, 1 Februari 2022

Rulli Nuryanto Staf Ahli Menteri Koperasi dan UKM Bidang Ekonomi Makro menyatakan pihaknya menargetkan 30 persen dari total pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) atau sebesar 20 juta UMKM terhubung ke ekosistem digital

“Untuk mencapai hal tersebut, Kemenkop terus berupaya meningkatkan literasi digital dan dukungan meningkatkan kualitas (serta) pasar produk UKM dan kapasitas SDM (sumber daya manusia) UKM melalui berbagai program kami,” ungkapnya saat mengikuti Rapat Pimpinan Kamar Dagang Indonesia di Yogyakarta, Senin (31/1/2022).

Dalam keterangan pers yang dikutip Antara disebutkan per Desember 2021, sebanyak 17,25 juta pelaku UMKM disebut telah onboarding ke dalam ekosistem digital. Di tahun 2024, pihaknya menargetkan 30 juta UMKM yang terdigitalisasi.

Selain itu, 202 koperasi telah masuk ekosistem digital dari target 100 koperasi pada tahun 2021 dan ditargetkan 200 koperasi pada tahun 2022.

Pada tahun lalu, Kemenkop dikatakan telah berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam rangka percepatan digitalisasi koperasi dan UMKM.

“Kami telah bekerjasama dengan Tokopedia, Lazada, Shopee, Blibli, Bukalapak, Gojek, Grab, dan stakeholder (pemangku kepentingan) lainnya,” ucap Rulli.

Sebagai upaya meningkatkan kapasitas usaha pelaku UMKM, pihaknya juga menggandeng 11 inkubator dari swasta maupun universitas. Rulli menambahkan, di tahun 2022 Kemenkop fokus dalam agenda pemulihan transformatif.

Di antaranya 70 persen prioritas program menyasar pelaku UMKM dan koperasi, anak muda, perempuan, serta mendukung pengembangan usaha ramah lingkungan.

“Selanjutnya, akses pembiayaan UMKM dan koperasi bergeser dari sektor perdagangan ke sektor riil. Pembiayaan Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM) 40 persen untuk sektor riil,” lanjut dia.

Akses tersebut mencakup pula pembiayaan dari sektor perbankan dan non perbankan sehingga diharapkan dapat lebih terkonsolidasi ke dalam ekosistem sektor riil.


Sumber :

https://www.suarasurabaya.net/ekonomibisnis/2022/kemenkop-targetkan-20-juta-umkm-masuk-ekosistem-digital-di-tahun-2022/