Pages

Thursday, December 3, 2020

Trik CEO Baba Rafi Menyelamatkan dari Kebangkrutan

Kebab Turki Baba Rafi Selamat dari Bangkrut, Owner Ungkap Triknya 

04 Desember 2020

Pandemi covid-19 tentu berpengaruh besar pada industri usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia, tak terkecuali oleh perusahaan Kebab Turki Baba Rafi. 

"Pembukaan outlet Baba Rafi tahun ini produktivitasnya menurun dibandingkan sebelumnya," kata pemilik Kebab Turki Baba Rafi Nilamsari Sahadewa. Faktor sewa tempat diakui Nilam menjadi salah satu penyebab penurunan produktivitas outlet usaha miliknya. 

"Untuk sewa tempat di lokasi yang sama harganya sekarang meningkat. Jadi, untuk membuka outlet baru itu menjadi sangat sulit," jelasnya dalam Webinar bertajuk Kreativitas Mempertahankan Bisnis di Era Pandemi yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia, Senin (30/11/2020). 

Faktor kedua adalah biaya hidup karyawan yang meningkat, diiringi dengan biaya operasional yang setiap tahunnya semakin tinggi. Setelah menjalani riset dengan timnya, Nilam menyimpulkan bahwa risiko penurunan bisnis di masa pandemi bisa diatasi dengan konsep virtual kitchen. 

Konsep yang sudah dijalani sejak 2019 ini difokuskan perusahan Baba Rafi pada pemberdayaan perempuan. 

"Banyak perempuan yang mengalami kekerasan rumah tangga dan sedang menjalani proses perceraian. Mereka butuh pekerjaan untuk menghidupi keluarganya dan kami berusaha untuk membantu mereka," jelasnya. 

Virtual kitchen ini bisa dilakukan di rumah dengan modal dan investasi yang minim. 

"Akhirnya, banyak biaya operasional yang bisa dikurangi dan waktu usaha juga jadi lebih fleksibel," ujar dia.


Sumber :

https://www.genpi.co/bisnis/73688/kebab-turki-baba-rafi-selamat-dari-bangkrut-owner-ungkap-triknya

Tuesday, November 24, 2020

Mengembangkan Bisnis UMKM

4 Hal yang Perlu Diperhatikan saat Mengembangkan Bisnis UMKM

Banyak bisnis baru yang bermunculan dan mulai berkembang di tengah pandemi. Entah itu di bidang kuliner, kesehatan, atau pakaian. Tak ayal, banyak pula pebisnis baru yang muncul di tahun ini.  

Ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan, Muhammad Chatib Basri, mengatakan bahwa perilaku masyarakat saat pandemi ini bisa menciptakan pola-pola baru yang perlu dibaca dengan jeli oleh para pebisnis.  

Mengelola bisnis yang masih seumur jagung memang jadi tantangan tersendiri. Selain diperlukan kemampuan membaca selera konsumen, mempertahankan bisnis di kala pandemi juga bukan hal mudah. Meski begitu, hal tersebut bukan berarti tidak bisa dilakukan.  

Setidaknya ada 4 cara yang bisa Anda lakukan  sebagai pelaku usaha UMKM untuk mengembangkan bisnis khususnya selama pandemi. Apa saja? 


1. Menjaga arus kas bisnis

Meski terlihat sepele, mencatat perputaran arus kas bisnis dapat berdampak besar. Karenanya pastikan Anda selalu mencatat, memantau, dan melakukan evaluasi arus kas secara konsisten agar Anda dapat melacak segala transaksi, termasuk melihat kenaikan atau penurunan bersih dalam kas. Nantinya, laporan tersebut dapat menjadi acuan dalam menentukan langkah ke depan.  

Selama masa pandemi ini, Anda dapat melakukan evaluasi perencanaan keuangan termasuk proyeksi pendapatan, memangkas anggaran biaya yang tidak prioritas serta menghindari pengeluaran yang tidak terencana agar arus kas bisnis dapat tetap sehat.  


2. Terus kreatif dalam berinovasi 

Banyaknya bisnis baru yang hadir selama pandemi tentu membuat persaingan semakin ketat. Bagaimana tidak, banyak pebisnis yang berlomba-lomba menawarkan produk dan jasanya untuk memudahkan hidup masyarakat di tengah keterbatasan. Oleh sebab itu, teruslah berinovasi dalam aspek kualitas, pelayanan, pemasaran, hingga pengemasan agar terlihat menarik dan sesuai dengan keinginan pasar.  

Penting untuk Anda agar melakukan peninjauan ulang produk yang ditawarkan agar produk dapat terus relevan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan begitu, produk Anda akan lebih diminati pasar, sehingga akan meningkatkan profit penjualan.  


3. Buat strategi pemasaran dan pelayanan konsumen 

Keberhasilan strategi pelayanan konsumen suatu usaha dapat dicapai jika kepuasan pelanggan terpenuhi. Dalam membuat strategi pelayanan konsumen yang baik, bentuklah tim yang bisa berkomunikasi secara efektif agar tercipta kepercayaan pelanggan dan terhindar dari kesalahpahaman yang membuat pelanggan tidak puas.  

Selama masa pandemi ini, sesuaikan kanal penjualan dan strategi pelayanan konsumen dengan perkembangan terkini. Peran digital menjadi sangat penting untuk mendukung keberlanjutan usaha kita. Ketersediaan kanal penjualan secara digital serta media sosial dapat menjadi platform yang bermanfaat untuk mempromosikan dan menjual produk-produk kita. 


4. Jaga loyalitas karyawan 

Menjaga loyalitas karyawan menjadi hal yang tak kalah penting dalam perjalanan bisnis Anda. Bagaimanapun, kinerja karyawan jadi salah satu faktor untuk mendapatkan loyalitas konsumen.  

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kinerja serta menjaga loyalitas karyawan. Misalnya, menciptakan lingkungan kerja dan kerja sama tim yang sehat, membangun komunikasi yang baik atau memberikan pelatihan untuk mendukung potensi karyawan Anda. Selain itu, Anda juga bisa memberikan perlindungan asuransi untuk memberikan rasa aman saat bekerja.  

Ya, asuransi untuk para karyawan memang sangat dibutuhkan. Masa pandemi ini semakin meningkatkan kesadaran karyawan akan pentingnya untuk mendapatkan perlindungan jiwa dan kesehatan. Dengan memberikan perlindungan asuransi, karyawan juga merasa kehadirannya dihargai. Hal tersebut tentu dapat meningkatkan motivasi, produktivitas, dan loyalitas karyawan.  

Tak perlu bingung untuk memilih asuransi apa yang tepat untuk bisnis Anda. Karena kini, PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) telah menyediakan produk untuk sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui lini bisnis asuransi kumpulan PRUWorks. Hanya dengan minimal lima karyawan, Anda bisa mendapatkan perlindungan dari PRUWorks dimana manfaat dan uang pertanggungan bisa dipilih sesuai dengan kebutuhan dan anggaran perusahaan.  


Sumber :

https://kumparan.com/kumparanbisnis/4-hal-yang-perlu-diperhatikan-saat-mengembangkan-bisnis-umkm-1ueJvGE2uug/full

Tuesday, October 20, 2020

Evaluasi Kinerja Bisnis UMKM

Lima Tips Evaluasi Kinerja Bisnis UMKM di Masa Pandemi 

Masa pandemi merupakan waktu yang tepat bagi pelaku usaha meningkatkan inovasi dan mencari cara baru untuk menjangkau konsumen sasaran dengan bantuan teknologi. 

Model memperagakan produk kerajinan rotan yang disiarkan langsung secara daring (live streaming). Zilingo berbagi tips bagi UMKM mengevaluasi bisnis selama pandemi. Pandemi corona masih membayangi kinerja bisnis hampir seluruh sektor di Indonesia hingga akhir tahun. 

Di tengah tekanan saat ini, pelaku usaha perlu mengevaluasi posisi mereka dengan membuat parameter serta perencanaan bisnis untuk beberapa bulan mendatang. Zilingo Trade, marketplace business to business (B2B), yang bergerak di bidang pengadaan online berbagi tips cara mengevaluasi kinerja bisnis, khususnya pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di masa pandemi.   

Head of Commercial Zilingo, Melina Marpaung mengatakan, situasi saat ini memberi tantangan besar bagi semua industri. "Beberapa aspek yang harus dipertimbangkan oleh para pelaku usaha dalam menjaga kelangsungan operasi serta kesehatan bisnis mereka," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (24/9).  

Melina memberikan lima tips bagi para pemilik merek dan pengusaha UMKM dalam mengevaluasi kinerjanya agar siap menghadapi kuartal akhir 2020. 


1. Tinjau Manajemen Inventaris  

Meninjau inventaris merupakan parameter penting untuk mengevaluasi kesehatan bisnis. Jika pengusaha memiliki terlalu banyak stok persediaan di gudang, ini mungkin saat yang tepat untuk mengevaluasi kembali stok. Mengurangi inventaris dapat membantu pelaku usaha menurunkan biaya inventaris tanpa mengorbankan kualitas barang yang terjual. Situasi saat ini memungkinkan pengusaha mengalami kelebihan pesanan untuk produk jenis tertentu. Salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah dengan memproses pengadaan produk dari supplier lain dengan harga yang lebih kompetitif.  "Cobalah mencari alternatif dropshipper sehingga Anda dapat mengurangi biaya pengiriman dan pergudangan," ujar dia. 


2. Fokus pada Kompetensi Inti Bisnis  

Pemilik usaha kecil seringkali tidak dapat membedakan konsep diversifikasi dengan mengoleksi produk. Padahal, menambahkan produk atau layanan lain bukanlah diversifikasi. Hal ini justru membuang-buang waktu dan uang jika dilakukan tanpa mengevaluasi permintaan pasar atau perilaku konsumen lokal. "Menginvestasikan waktu, uang, dan upaya Anda pada bukan yang merupakan inti bisnis pada akhirnya dapat merusak merek dan reputasi Anda,” ujar Melina. Karena itu, sekarang adalah saat yang tepat bagi Anda untuk meninjau kembali mengenai itu. 


3. Sesuaikan Model Bisnis  

Pengusaha atau pemilik bisnis wajib mengakomodasi dan mengikuti tren yang berubah, khususnya dalam situasi pandemi saat ini. Sehingga, jika pelaku usaha ingin bisnisnya tetap bertahan dari krisis, perlu beradaptasi dan memanfaatkan peluang yang tepat. Terkait hal ini, Melina pun menyarankan mengubah model bisnis mungkin terlihat sebagai upaya terakhir untuk bertahan hidup. Pelaku usaha dapat memulai dengan mengubah kategori produk, menyederhanakan proses pembayaran, dan lainnya. "Dengan begitu, pelaku bisnis dapat terus beradaptasi dengan tren dan pola konsumsi dari konsumen,” ujar dia. 


4. Melindungi Arus Kas  

Di saat krisis,  pelaku usaha perlu menurunkan ekspektasi dari kinerjanya. Pusatkan perhatian pada kelancaran operasi, selain keuntungan yang dapat diraih. Karenanya, pelaku usaha perlu berhati-hati dalam memprioritaskan kebutuhan dengan cara mengurangi pengeluaran, menghentikan proses inventaris sementara, dan menunda rencana ekspansi untuk sementara waktu. Selain itu, persiapkan rencana keuangan cadangan untuk mengantisipasi skenario terburuk. “Pastikan untuk selalu memantau keuangan Anda dengan menganalisis laporan keuangan secara teratur. Ini untuk memastikan arus kas tetap lancar," katanya. Dia pun menyankan pelaku usaha untuk menghindari kredit bisnis bila tak memiliki kemampuan melunasi. Dengan cara ini, pelaku usaha bisa terhindar dari tekanan finansial yang tidak semestinya atau bahkan kehabisan dana.  


5. Manfaatkan Teknologi 

Masa pandemi merupakan waktu yang tepat bagi pelaku usaha meningkatkan inovasi dan mencari cara baru guna menjangkau konsumen sasaran dengan bantuan teknologi. Pelaku usaha bisa mulai menjual barang dagangan di pasar online atau media sosial, atau bahkan menjual dalam jumlah besar untuk meningkatkan omset. Pertimbangkan lebih banyak promosi, dan meningkatkan pemasaran digital melalui strategi dan konten yang terjangkau namun menarik. “Jika Anda tidak tahu harus mulai dari mana, Zilingo Trade dengan berbagai layanannya siap untuk mengaktifkan, melengkapi, dan meningkatkan bisnis Anda," ujarnya.  

Guna membantu kebutuhan UMKM, lini bisnis B2B milik Zilingo, yakni  Zilingo Trade siap mendukung merek dan bisnis melalui berbagai layanan. Contohnya, layanan pengadaan, penjualan di marketplace, pemasaran, perangkat lunak, logistik, hingga layanan keuangan, yang dihadirkan bawah satu platform terpadu. 

Selain menyediakan platform perdagangan grosir, Zilingo Trade juga menawarkan solusi bisnis, mulai dari layanan pemasaran, keuangan, produksi, hingga logistik. Pandemi Covid-19 telah memukul UMKM di Indonesia. Sebagian di antaranya pernah mengalami krisis serupa pada 1998 dan 2008. 

Berdasarkan survei yang dilakukan Katadata Insight Center (KIC) 3,1% responden UMKM mengaku pernah mengalami krisis 1998 dan 0,7% responden yang merasakan krisis 2008. Survei ini juga menanyakan bagaimana cara pelaku UMKM untuk bangkit dari krisis di tengah pandemi Covid-19 saat ini. Sebanyak 34,6% responden mengaku beralih dari sistem pemasaran offline ke online. 

Sementara 15,4% memilih untuk mengganti dan membuat produk atau usaha baru, serta mendapat modal tambahan. KIC membuat survei UMKM untuk kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Survei yang menjangkau 206 responden itu berlangsung pada 8-15 Juni lalu.

Detailnya, disajikan dalam databoks berikut:

Sumber :

https://katadata.co.id/ekarina/brand/5f6d4a0edb2ab/lima-tips-evaluasi-kinerja-bisnis-umkm-di-masa-pandemi?

Cara Mendaftar UMKM Lewat Online

Cara Mendaftar UMKM Lewat Online, Login di eform.bri.co.id

Bantuan pemerintah untuk UMKM lewat online diminati masyarakat. Mereka yang sudah terdaftar bisa login di eform.bri.co.id.

Menurut informasi yang dihimpun dari Kemenkop UKM, Selasa (20/10/2020) Program Bantuan Presiden Produktif untuk Usaha Mikro (BPUM) adalah strategi pemerintah untuk membantu UMKM agar bertahan di tengah pandemi COVID-19.

Kalau Anda adalah pelaku UMKM, bisa mendapatkannya dengan daftar UMKM online dan offline. Tapi sebelum itu, perlu diketahui kalau BPUM hanya berhak diterima oleh orang dengan kondisi tertentu.


Syarat menerima BPUM:

  1. Warga Negara Indonesia
  2. Mempunyai Nomor Induk Kependudukan (NIK)
  3. Memiliki Usaha Mikro
  4. Bukan ASN, TNI/Polri serta Pegawai BUMN/BUMD
  5. Tidak sedang menerima kredit atau pembiayaan dari perbankan dan KUR
  6. Bagi pelaku usaha mikro yang memiliki KTP dan domisili usaha yang berbeda dapat melampirkan Surat Keterangan Usaha (SKU).

Jika memenuhi kondisi di atas, daftarkan diri Anda ke salah satu dari 4 pihak pengusul.

Para pengusul BPUM:

  1. Dinas yang membidangi Koperasi dan UKM di wilayah setempat
  2. Koperasi yang telah disahkan sebagai Badan Hukum
  3. Kementerian/Lembaga
  4. Perbankan dan perusahaan pembiayaan yang terdaftar di OJK

Syarat mendaftarkan diri ke pihak pengusul BPUM:

  1. Nomor Induk Kependudukan
  2. Nama Lengkap
  3. Alamat tempat tinggal sesuai eKTP
  4. Bidang Usaha
  5. Nomor Telepon

Setelah itu, lakukan pengecekan secara online dengan mengakses e-form BRI.

Cara mengecek online di e-form BRI:

  1. Klik https://eform.bri.co.id/bpum atau dari halaman muka eform.bri.co.id, pilij BPUM di bagian paling bawah
  2. Masukkan nomor eKTP, yang sebelumnya didaftarkan ke pihak pengusul
  3. Masukkan kode verifikasi
  4. Klik proses inquiry

Jika berhasil, akan ada pesan bahwa nomor eKTP yang dimaksud terdaftar sebagai penerima BPUM. Untuk verifikasi dan pencariannya bisa menghubungi kantor BRI terdekat membawa bukti eKTP.

Namun jika gagal, maka akan ada tulisan nomor eKTP tidak terdaftar sebagai penerima BPUM. Anda mesti menghubungi lagi pihak pengusul tempat mendaftarkan diri.

Bantuan yang akan diberikan pemerintah ini adalah sebesar Rp 2,4 juta. Ayo manfaatkan kesempatan daftar UMKM online ini untuk membantu kegiatan usaha Anda. Informasi singkat bisa disimak dalam infografis berikut ini:


Sumber :

https://inet.detik.com/business/d-5220738/cara-mendaftar-umkm-lewat-online-login-di-eformbricoid?

Thursday, September 10, 2020

60% UMKM Belum Go Digital

60 Persen Pelaku UMKM Disebut Belum Melek Digital 

Deputi Direktur Asosiasi Perempuan Pengusaha Usaha Kecil (Asppuk) Mohammad Firdaus menyebut, ada 60 persen pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang belum melek digital atau masih memasarkan produknya secara tradisional.

Menurut dia, rata-rata pelaku UMKM yang belum transisi ke pemasaran digital ini merupakan orang berusia lebih dari 40 tahun. "Salah satu kendala adalah mereka belum melek digital, karena usianya di atas 40 tahun," katanya dalam webinar virtual, Selasa (8/9/2020).

Angka 60 persen pelaku UMKM belum melek digital tersebut, lanjut Firdaus, kebanyakan adalah wanita. Hal inilah yang menjadi tantangan dirinya untuk mengubah para pelaku UMKM wanita tersebut bertransformasi memasarkan produknya ke digital.

"Kalau kita lihat jumlah UMKM perempuan di usia itu banyak juga, tapi memang karena menggunakan strategi pendampingan tadi. Kami yakinkan mereka, kami libatkan anak-anaknya membantu mereka," ujarnya.

Oleh sebab itu, Asppuk menggandeng Tokopedia untuk memberikan pendampingan terhadap pelaku UMKM wanita. Di Tokopedia kata dia, pelaku UMKM akan diajarkan bagaimana cara pengemasan dan cara memasarkan secara online. 

Ke depan, Aspuk ingin mengajak 60 persen UMKM yang belum bergabung dengan penjualan online bertransisi memasarkan produknya lewat internet.

"Kami percaya setiap individu, baik perempuan maupun difabel, punya kesempatan yang sama dalam memulai dan mengembangkan usaha. Asppuk sangat mengapresiasi kolaborasi dengan Tokopedia dan Coca Cola. Program pemberdayaan ini dapat membuka jalan para pegiat UMKM untuk bertahan di tengah situasi pandemi," ujarnya.


Sumber :
https://money.kompas.com/read/2020/09/09/073000426/60-persen-pelaku-umkm-disebut-belum-melek-digital.

Gotong Royong Dorong Pertumbuhan Ekonomi UMKM

UMKM Terdampak Pandemi, Pemerintah dan Swasta Gotong Royong Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Usaha mikro kecil dan menengah ( UMKM) merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia. Mereka adalah ujung tombak perputaran ekonomi dalam negeri. Dikutip dari Kompas.com, Jumat (20/12/2019), UMKM menyumbang 60,34 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyumbang 58,18 persen dari total investasi. 

Terlebih di masa pandemi Covid-19, UMKM memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah situasi yang tak pasti. Naasnya, UMKM juga menjadi kelompok yang rentan di tengah situasi pandemi. Tak sedikit UMKM jatuh tengkurap akibat badai ini. 

Misalnya saja, warung-warung kecil yang terpaksa tutup karena sepi pembeli. Baca juga: Ini Tips Bagi UMKM agar Kreatif di Tengah Pandemi... Diberitakan Kompas.com, Selasa (28/7/2020), Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) mengonfirmasi dari 64,2 juta UMKM yang ada di Indonesia, sekitar 50 persen atau setara 30 juta UMKM harus tutup sementara akibat pandemi Covid-19. 

Bahkan, berdasarkan data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), bila pandemi tak kunjung usai, 85,42 persen UMKM hanya akan mampu bertahan selama satu tahun. Sementara itu, pelaku UMKM yang masih bertahan juga tak luput dari ancaman kesehatan yang terus menghantui. Setiap hari, mereka melayani dan bertransaksi dengan banyak orang silih berganti. 

Kontak fisik tak bisa mereka hindari sehingga penularan virus rentan terjadi. Tak tinggal diam, seperti diwartakan Kompas.com, Selasa (11/8/2020), pemerintah mengeluarkan beberapa kebijakan untuk menjaga sektor perekonomian, seperti program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dan percepatan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi UMKM. 

Bahkan, pemerintah telah mengalokasikan stimulus sebesar Rp 123,46 triliun khusus untuk UMKM. Seiring program stimulus ekonomi, pemerintah juga sedang menyiapkan program Bantuan Sosial (Bansos) Produktif untuk percepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia. 

Bansos Produktif bertujuan meningkatkan daya tahan para pelaku UMKM yang belum memiliki akses perbankan. Total bantuan yang akan digelontorkan sebesar Rp 28,8 triliun untuk 12 juta pelaku UMKM. Masing-masing pelaku UMKM akan mendapatkan dana hibah modal kerja sebesar Rp 2,4 juta tanpa bunga. 

Dengan bantuan tersebut, UMKM diharapkan dapat terus berdaya dalam menggerakkan roda bisnisnya. Ketika mereka berdaya, kesejahteraan dan kesehatan mereka pun akan lebih terjamin. Tak hanya pemerintah, pihak swasta turut memainkan peran besar dalam mendorong pelaku UMKM untuk kembali bangkit, kuat, dan mandiri. 

Sudah saatnya, perusahaan-perusahaan besar, turun tangan membantu bisnis-bisnis kecil menavigasi roda ekonomi dalam era Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) atau new normal. Suntikan semangat untuk UMKM Melalui semangat #MariBerbagiPeran, Unilever Indonesia turut berkontribusi dalam memberikan suntikan semangat kepada para pelaku UMKM agar kembali bangkit di tengah pandemi dan berkontribusi menuju Indonesia maju. 

“Kami terus fokus pada komitmen untuk selalu bersama Indonesia. Tidak hanya dalam kemudahan, tapi juga dalam mengatasi tantangan,” kata Presiden Direktur PT Unilever Indonesia Tbk Hemant Bakshi dalam keterangan tertulis. Komitmen tersebut diwujudkan Unilever Indonesia melalui dukungan senilai Rp 200 miliar untuk penanganan pandemi di Indonesia. 

Dukungan ini telah dan akan direalisasikan secara bertahap dalam berbagai bentuk, baik secara independen maupun melalui berbagai kemitraan. Salah satu bentuk dukungan nyata yang diberikan, yakni melalui inisiatif #UnileverUntukIndonesia yang diluncurkan bertepatan dengan peringatan Hari UKM Nasional, Rabu (12/8/2020). 

Melalui inisiatif itu, Unilever Indonesia memberikan bantuan senilai Rp 40 miliar kepada 147.000 pedagang warung. Apalagi, angka penularan Covid-19 masih tinggi di beberapa daerah, khususnya pada tempat-tempat berkumpulnya banyak orang seperti pasar. 

Untuk mendukung kesehatan dan keselamatan mereka, perusahaan fast moving consumer goods (FMCG) tersebut mendonasikan pelindung wajah, masker, hand sanitizer dan sabun cuci tangan Lifebuoy, serta Wipol Karbol kepada 147.000 pedagang warung. Dalam kampanye #UnileverUntukIndonesia, perusahaan tersebut juga terus mendorong agar pedagang warung tetap berjualan. 

Caranya, yakni dengan menyumbangkan keuntungan dari hasil transaksi kepada 147.000 pedagang warung tersebut selama tiga bulan. Sumbangan ini diberikan dalam bentuk e-coupon untuk tambahan modal usaha. 

Tak hanya itu, agar para pedagang lebih maksimal dalam memanfaatkan perkembangan teknologi, Unilever Indonesia membekali mereka dengan aplikasi Sahabat Warung. Aplikasi digital ini diluncurkan untuk memudahkan para mitra warung dalam proses pemesanan barang, komunikasi, serta memangkas rantai distribusi. 

Dengan begitu, pedagang tetap bisa menjaga jarak saat memesan suplai barang. Usaha warung pun bisa terus berjalan karena suplai selalu terjaga. Keseluruhan dukungan bagi para pedagang warung diberikan agar mereka tetap sehat, selamat, dan tetap berjualan demi keberlangsungan usaha. Unilever Indonesia percaya, bisnis harus berjalan berlandaskan tujuan mulia (purpose led) dan relevan dengan masa depan (future fit). 

Hal ini sesuai dengan visi perusahaan untuk tumbuh bersama-sama dengan semua bagian dari ekosistemnya. 

Kampanye #UnileverUntukIndonesia melanjutkan berbagai inisiatif pemberdayaan UMKM yang dijalankan perusahaan tersebut di bawah payung “Selling with Purpose”. Ini merupakan sebuah program berkelanjutan yang didasari kepercayaan bahwa kesuksesan perusahaan berjalan seiring dengan kesuksesan para mitra UMKM. Selama UMKM mampu bangkit dan berdaya, maka roda perekonomian akan terus berputar menyongsong kemajuan bangsa.


Sumber :

https://money.kompas.com/read/2020/09/09/143611226/umkm-terdampak-pandemi-pemerintah-dan-swasta-gotong-royong-dorong-pertumbuhan?utm_source=nativeinarticle&utm_medium=desktop.

Monday, August 31, 2020

UMKM Optimalkan Kanal Digital

Pengguna E-commerce Naik, Menkop Teten Minta UMKM Optimalkan Kanal Digital 

31/08/2020

Menteri Koperasi dan UKM (Menkop UKM) Teten Masduki menyatakan, pengguna e-commerce meningkat selama pandemi virus corona. Berdasarkan data yang ia terima dari McKinsey, tercatat selama pandemi, pengguna e-commerce mengalami kenaikan sebesar 26 persen dan mencapai 3,1 juta transaksi per hari. Untuk itu dia meminta para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah ( UMKM) untuk dapat mengoptimalkan teknologi digital agar dapat menjalankan usahanya dari rumah dan terhubung ke ekosistem digital serta melakukan adaptasi dan inovasi produk.

"Pasalnya, UMKM digital produktif merupakan kunci pemulihan ekonomi," ujarnya mengutip siaran resminya, Senin (31/8/2020). Menurut Teten selain dengan adanya upaya ini, peningkatan kerjasama antara Kementerian/Lembaga, pemerintah daerah, institusi perbankan, fintech, marketplace dan seluruh pihak lain yang terlibat, juga harus dilakukan untuk menyiapkan the Future SMEs.

Sehingga, diharapkan para UMKM dapat bersaing di pasar domestik dan pasar global. "Pasalnya, pandemi Covid-19 berdampak signifikan bagi pelaku UMKM di Indonesia, baik dari sisi supply maupun demand," ucapnya.

Menurut Teten, untuk terjun ke digital bukanlah hal yang mudah, sebab ada banyak tantangan lain yang harus siap ditempuh para pelaku UMKM. Misalnya saja, disebutkan dia, seperti masalah Sustainability.

"UMKM tidak hanya harus bertahan, namun harus mampu menjadi kompetitif baik di pasar lokal dan global," jelasnya. Oleh sebab itu dia menegaskan, pemerintah harus melakukan intervensi baik di sisi hulu (supply) dan sisi hilir (demand). Untuk menjawab masalah di sisi supply, salah satunya adalah masalah pembiayaan untuk koperasi dan UMKM.

Dalam hal ini pemerintah telah mengalokasikan dana sebesar Rp 123,46 triliun untuk program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) khusus sektor UMKM. Per 27 Agustus 2020, dikatakan dia, progres sementara baru mencapai 45,76 persen atau telah disalurkan sebanyak Rp 56,5 miliar untuk pelaksanaan program PEN sektor KUMKM.

Selain itu, untuk usaha mikro yang tidak menerima kredit modal kerja dan investasi dari perbankan pemerintah menyiapkan bantuan modal kerja, yaitu Bantuan Presiden (Banpres) Produktif Usaha Mikro berupa hibah Rp 2,4 juta untuk 12 juta pelaku usaha mikro.

"Program ini diharapkan menjadi jawaban bagi para pelaku usaha mikro yang modal usahanya tergerus untuk kepentingan konsumsi untuk dapat menambah inventory/modal kerja, serta memudahkan ke depannya pelaku usaha dapat terintegrasi dalam sistem keuangan inklusif," papar Teten.

Sementara untuk tantangan di sisi hilir atau demand, pihaknya sudah melakukan usaha membantu upaya pemasaran produk koperasi dan UKM dengan menyertakan UMKM dalam platform belanja pemerintah serta platform belanja BUMN. Tahun ini, setidaknya ada potensi senilai Rp 321 triliun belanja pengadaan barang dan jasa pemerintah yang telah diarahkan Presiden Jokowi untuk dapat dioptimalkan UMKM.


Sumber :
https://money.kompas.com/read/2020/08/31/132726226/pengguna-e-commerce-naik-menkop-teten-minta-umkm-optimalkan-kanal-digital?page=all.

Monday, August 24, 2020

Digitalisasi UMKM

Youtap & Pemkot Semarang Digitalisasi UMKM


24 Agustus 2020

Saat ini tercatat lebih dari 6.000 UMKM di Semarang telah terdigitalisasi menggunakan solusi digital Youtap.

Youtap Indonesia, perusahaan teknologi yang fokus pada bisnis digital, bekerja sama dengan Pemerintah Kota Semarang mendorong adopsi digital terhadap 10.000 UMKM di Semarang.

CEO Youtap Herman Suharto mengatakan bahwa saat ini tercatat lebih dari 6.000 UMKM di Semarang telah terdigitalisasi menggunakan solusi digital Youtap.

 “Untuk program kerja sama ini, kami menargetkan setidaknya 8.000—10.000 mitra UMKM baru yang bergabung dengan Youtap,” kata Herman kepada Bisnis, Minggu (24/8/2020).

Herman menuturkan bahwa migrasi ke teknologi digital makin krusial sejak pandemi Covid-19. Untuk membantu para pedagang untuk berkembang pada masa yang sulit tersebut, Youtap rutin melakukan edukasi agar mereka bisa beralih dari pengelolaan bisnis secara konvensional ke pengelolaan bisnis secara digital.

Youtap juga mendampingi para pedagang untuk bisa beradaptasi dengan digital sehingga baik para pedagang dan pembeli dapat tetap melakukan transaksi yang aman dan nyaman.

“Tim lapangan kami selalu konsisten mendampingi dan memberikan bantuan bagi merchant-merchant kami apabila terdapat kesulitan ataupun pertanyaan,” kata Herman.

Herman menuturkan sebelum bekerja sama dengan Pemkot Semarang, Youtap juga telah bekerja sama dengan berbagai dinas pemerintahan, seperti Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah, Dinas Pariwisata, serta Dinas Perindustrian di kota-kota lain, seperti salah satunya Kota Bandung.


Sumber :
https://ekonomi.bisnis.com/read/20200824/12/1282215/youtap-pemkot-semarang-digitalisasi-umkm

Friday, July 31, 2020

Sertifikasi Halal bagi UMK Kuliner

BPJPH Sosialisasikan Sertifikasi Halal bagi UMK Kuliner

Jumat, 31 Juli 2020

Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) terus mensosialisasikan sertifikasi halal, tidak terkecuali kepada Usaha Mikro dan Kecil (UMK) yang bergerak pada sektor kuliner.

Setiap kesempatan dimanfaatkan, salah satunya dalam Seminar Online bertajuk "Sertifikasi Halal UMK" yang digelar Perkumpulan Aliansi Kuliner Indonesia (KUL-IND).

Hadir sebagai narasumber, Kepala Bidang Registrasi Halal BPJPH, Ahmad Sukandar mengatakan bahwa pemenuhan kebutuhan konsumsi halal bagi umat Islam merupakan bagian dari hak beragama yang wajib dipenuhi.

Pemerintah sangat serius dalam penyelenggaraan Jaminan Produk Halal (JPH) ini.

"Bapak Presiden di acara peluncuran Halal Park 16 April 2019 lalu menyatakan tekad kuat untuk menjadikan industri halal kita sebagai motor pertumbuhan ekonomi, ladang kreativitas, dan produktivitas generasi-generasi muda kita, agar bisa menjadikannya sebagai sumber kesejahteraan umat," ujar Sukandar, swbagiman dilansir kemenag,  Kamis (30/7/2020).

"Bapak Wakil Presiden tegas menyatakan pula bahwa sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia seharusnya mampu menjadi produsen produk halal. Ini mengingatkan bahwa kita semua harus serius dalam memajukan perkembangan produk halal kita, terutama pada sektor UMK,"  tambahnya.

Sebagai sektor usaha yang mengakar di tengah masyarakat, UMK memang memiliki peran besar di Indonesia.

Kepala Bidang Sertifikasi Halal BPJPH, Amrullah, mengungkapkan hal itu dengan menilik data BPS tahun 2016. UMK yang  besarnya 99,9 persen dari total jumlah usaha di Indonesia memberikan kontribusi PDB sebesar 62,57 persen, serapan tenaga kerja sebesar 96,5 persen, serta pendukung komoditi ekspor 16,45 persen.

"Dengan kontribusi sebesar itu, UMK merupakan pondasi perekonomian nasional kita, termasuk UMK sektor kuliner atau pangan ini," jelas Amrullah.

Untuk itu, pemerintah terus berupaya mengembangkan UMK pangan melalui pendekatan sistem mutu dan fasilitasi sertifikasi sesuai amanat UU JPH. Pasal 44 UU JPH mengatur, bahwa biaya sertifikasi halal dibebankan kepada pelaku usaha yang mengajukan permohonan sertifikat halal.

Namun dalam hal pelaku usaha merupakan usaha mikro dan kecil, maka biaya sertifikasi halal dapat difasilitasi oleh pihak lain.

"Fasilitasi oleh pihak lain tersebut dapat berupa fasilitasi oleh pemerintah pusat melalui anggaran APBN; pemerintah daerah melalui APBD; perusahaan; lembaga sosial; lembaga keagamaan; asosiasi ataupun komunitas," tambah Amrullah.

Selain biaya, fasilitasi juga dapat berupa penyelia halal, yaitu orang yang bertanggung jawab terhadap proses produk halal (PPH).

Fasilitasi ini meliputi keikutsertaan dalam diklat sertifikasi penyelia halal, keikutsertaan dalam uji kompetensi sertifikasi penyelia halal, dan/atau penyediaan penyelia halal.

"Fasilitasi penyelia halal bagi UMK oleh pihak lain tersebut dapat dilakukan oleh kementerian/lembaga, pemerintah daerah provinsi/kabupaten/kota, perguruan tinggi negeri, badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, lembaga keagamaan Islam, lembaga sosial, asosiasi atau komunitas," terang Amrullah.

Kepala Subbidang Verifikasi dan Penilaian BPJPH, Nurgina Arsyad, menambahkan, kebijakan JPH selain merefleksikan perlindungan negara bagi masyarakat konsumen, juga berkaitan dengan peningkatan produktivitas dan daya saing produk Indonesia di pasar internasional, terutama produk UMK.

Guna menunjang pelaksanaan layanan sertifikasi halal, Kemenag telah membentuk koordinator dan satuan tugas pada Kantor Wilayah Provinsi dan Kab/Kota untuk pelaksanaan layanan sertifikasi halal di daerah.

"Layanan ini terdiri atas layanan pendaftaran untuk mengajukan permohonan baru sertifikasi halal, permohonan pembaruan dan perubahan komposisi bahan, dan juga layanan konsultasi sebagai layanan jasa publik yang diberikan kepada masyarakat untuk mendapatkan informasi, penjelasan, mekanisme dan prosedur proses sertifikasi halal," terang Nurgina.

Pengajuan permohonan sertifikasi halal dapat dilakukan secara langsung melalui BPJPH atau Satgas Daerah di PTSP Kemenag, melalui email sertifikasihalal@kemenag.go.id, atau  melalui sistem informasi halal jika telah dinyatakan mulai berlaku.

Saat ini, layanan sertifikasi halal tatap muka dilakukan secara terbatas untuk konsultasi dan konfirmasi pendaftaran, dengan memperhatikan protokol kesehatan Covid-19.

"Formulir dapat diunduh di www.halal.go.id/infopenting. Untuk pengajuan melalui email, dokumen disatukan dalam satu file berformat pdf berukuran maksimal 8Mb, dengan kode pengiriman Nama Perusahaan_Pendaftaran SH_tanggal pengiriman. Contohnya, PT.Sakura_Pendaftaran SH_19032020," urai Nurgina.

Ada delapan dokumen permohonan sertifikasi halal:

1. Dokumen permohonan, terdiri atas Surat Permohonan,

2. Formulir Pendaftaran,

3. Aspek Legal Perusahaan seperti salinan NIB atau jika belum ada, dilengkapi dengan NPWP/IUMK/IUI/SIUP/API/NKV,

4. Dokumen Penyelia Halal,

5. Daftar Produk & Bahan/Menu,

6. Proses Pengolahan Produk,

7. Surat Kuasa jika yang menyerahkan dokumen selain penanggungjawab usaha, dan

8. Sistem Jaminan Halal.

Informasi terkait layanan ini, dapat diakses pelaku usaha melalui www.halal.go.id. Untuk informasi layanan dan konsultasi, BPJPH menyediakan saluran melalui nomor layanan WA 08111171019 dan email layanan sertifikasihalal@kemenag.go.id.


Sumber :
http://infopublik.id/kategori/nasional-sosial-budaya/471442/bpjph-sosialisasikan-sertifikasi-halal-bagi-umk-kuliner?

Thursday, July 30, 2020

Pengolahan Limbah UMKM

ITS Bekali Pelaku UMKM Lakukan Pengolahan Limbah

Kamis, 30 Juli 2020

Merujuk pada Tri Dharma Perguruan Tinggi, langkah demi langkah terus diwujudkan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dalam mengabdikan diri kepada masyarakat.

Termasuk di antaranya yang dilakukan oleh tim dosen Departemen Teknik Kimia ITS yang membekali pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) untuk mengolah limbah air kelapa menjadi pupuk organik.

Tim yang terdiri atas Dr Eng R Darmawan ST MT, Dr Ir Sri Rachmania Juliastuti MEng, Ir Nuniek Hendrianie MT, Setiyo Gunawan ST PhD, dan Hakun Wira A ST MMT PhD ini meyakini bahwa ilmu bukanlah menara gading.

Sehingga tidak harus sulit untuk dirasakan oleh masyarakat melalui kegiatan _transfer knowledge_. Atas dasar tersebut, terciptalah kegiatan pengabdian pada masyarakat yang telah berlangsung sejak tahun 2017 ini.

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat (Abmas) Dr Eng R Darmawan ST MT mengatakan, pada tahun 2017 kegiatan Abmas ini dimulai dengan pelatihan khusus yang diadakan untuk pelaku usaha penghasil limbah air kelapa tua di Kabupaten Ponorogo.

“Selanjutnya, limbah air kelapa ini akan diolah menjadi pupuk organik yang berfungsi untuk memperbaiki lahan yang sudah terdegradasi unsur hara tanah,” paparnya,di Surabaya, Kamis (30/7/2020).

Untuk diketahui, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kuantitas produksi kelapa di Kabupaten Ponorogo sebesar 6.170,09 ton.

Sebagai sentra industri UMKM yang utamanya menggunakan kelapa sebagai bahan dasar produksi, limbah air kelapa tua mudah ditemukan di daerah tersebut.

“Limbah air kelapa tua tersebut tidak dimanfaatkan dengan optimal, padahal masih mengandung cukup nutrisi yang bermanfaat,” ujarnya.

Pada tahun 2018, kegiatan yang bekerja sama dengan Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappedalitbang) Kabupaten Ponorogo ini memberikan kesempatan bagi pelaku usaha untuk berkunjung ke Departemen Teknik Kimia ITS, guna mengetahui cara kerja alat pengolahan limbah di laboratorium penelitian.

“Tahun selanjutnya, peserta diperluas ke penyuluh pertanian se-Kabupaten Ponorogo,” tambah dosen yang mengampu Laboratorium Pengolahan Industri ITS ini.

Di tengah pandemi Covid-19 ini, pelatihan komunal yang menjadi agenda tahunan tidak bisa dilaksanakan. Akan tetapi, Darmawan dan tim berupaya untuk tetap menjalankan kegiatan ini dengan menggandeng langsung pelaku usaha.

“Tahun ini dilaksanakan dengan cara pendampingan serta pemberian starter dan bioreaktor untuk melanjutkan eksperimen di rumah,” jelas alumnus Kumamoto University Jepang ini.

Lebih lanjut, Darmawan menjelaskan bahwa starter yang dimaksud adalah komunitas mikroba yang diekstrak dari lumpur lapindo dengan tambahan beberapa kali perlakuan sebagai suplemen komposisi bahan.

“Dalam studi kami pada tahun 2018 lalu, terbukti bahwa campuran antara molasses limbah air kelapa dan komunitas mikroba tersebut dapat menjadi kombinasi yang baik dalam pemupukan tanaman,” urainya.

Tak berhenti sampai pupuk organik cair tersebut diproduksi, Darmawan dan tim selalu melakukan eksperimen dari tahun ke tahun untuk memperbaiki kandungan Natrium, Phospat, dan Kalium (NPK) yang ada dalam pupuk.

“Uji coba kami lakukan dengan memvariasikan jenis tanaman uji dan metodenya di salah satu pondok pesantren di Jombang,” ungkap lelaki asal Kertosari, Kabupaten Ponorogo ini.

Oleh karena itu, tim Abmas ITS ini juga telah membantu piramida hidroponik dan keberlangsungan _green house_ di pondok pesantren tersebut.

Darmawan mengabarkan bahwa saat ini sedang dilakukan rekrutmen terbuka mahasiswa ITS yang ingin melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dengan topik terkait.

“Mereka akan diajak untuk mengaplikasikan pupuk organik cair ini secara hidroponik di pondok pesantren tersebut,” terangnya.

Kegiatan pengabdian masyarakat ini menuai respon positif dari peserta pelatihan. Salah satunya adalah Ery Wibowo, pelaku usaha industri jenang yang turut gembira dengan adanya kegiatan ini.

“Kami berharap selanjutnya masyarakat Ponorogo bisa berdaya saing tinggi dengan terus berkarya memanfaatkan potensi lokal yang dimiliki,” ucap Darmawan menambahkan.

Atas kerja sama yang telah terjalin sejak 2017 tersebut, dosen bergelar Groundwater Environmental Leader (GeIK) ini memberikan apresiasinya pada Bappedalitbang Kabupaten Ponorogo.

“Semoga ke depannya pihak Bappedalitbang maupun pemerintah daerah Kabupaten Ponorogo dapat meneruskan kompetensi ini lebih luas lagi,” katanya penuh harap.


Sumber :
http://infopublik.id/kategori/nusantara/471363/its-bekali-pelaku-umkm-lakukan-pengolahan-limbah

Wednesday, July 29, 2020

Edukasi K3 Bagi UMKM

Asosiasi Ahli K3 Jatim Siap Beri Edukasi Bagi UMKM

29 Juli 2020  |  07:13 WIB

Asosiasi Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja (A2K3) Jawa Timur menyatakan kesiapannya membantu memberikan edukasi bagi perusahaan termasuk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dalam mengerakkan budaya K3 di masa pandemi Covid-19.

Pengurus A2K3 Jatim, Edi Priyanto mengatakan penerapan budaya K3 menjadi bagian investasi bagi entitas bisnis di seluruh sektor usaha, salah satunya meminimalisir pengeluaran tidak perlu akibat biaya yang harus ditanggung dari kecelakaan kerja.

"Budaya K3 secara tidak langsung sanggup menghindarkan perusahaan dari kerugian karena biaya akibat kecelakaan kerja tidak kecil, bahkan efek domino yang ditimbulkan dari kecelakaan kerja cukup panjang, ditambah dengan brand awareness perusahaan yang terancam jatuh,” jelasnya dalam Webinar Urgensi K3 Dalam New Normal, Selasa (28/7/2020).

Dia menjelaskan ketika perusahaan harus mengeluarkan biaya akibat kecelakaan kerja dan penyakit, maka perusahaan pun berpotensi kehilangan omzet maupun laba, serta hilangnya waktu hingga sanksi hukum.

Edi menambahkan, khusus untuk pekerja sektor informal seperti tukang tambal ban, tukang las, dan UMKM lainnya memang dibutuhkan dukungan semua pihak baik asosiasi maupun pemerintah.

“UMKM ini jadi perhatian semua pihak agar memberikan edukasi tanpa bayar karena upaya keselamatan dan kesehatan bagi mereka adalah bentuk ibadah. Kalau dari kami asosiasi siap mensupport jika ada perusahaan yang butuh edukasi bisa dilakukan secara online,” imbuhnya.

Dekan Fakultas Teknik Universitas 17 Agustus (Untag), Sajiyo mengatakan sejak awal budaya K3 adalah hak asasi setiap insan mulai bayi sampai dewasa, bukan hanya pekerja. Dalam membudayakan K3 ini butuh komitmen bersama di masyarakat, pekerja hingga pimpinan perusahaan.

“Pekerja juga harus sadar bahwa sebagai pekerja punya hak untuk selamat. Kita tidak bisa mengandalkan K3 saja yang ahli tetapi pekerja itu sendiri tidak memperhatikan keselamatannya sendiri,” ujarnya.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jatim, Himawan Estu Bagijo menambahkan memang dalam tatanan normal baru telah memaksa masyarakat hidup sedikit lebih aktif dan berhati-hati, sehingga disiplin yang tinggi jadi syarat mutlak kesehatan bersama.

“Dari pemerintah sendiri akan terus berupaya mengkampanyekan, promosi, edukasi prilaku hidup bersih dan sehat di perusahaan-perusahaan. K3 juga menjadi bagian paling penting agar perusahaan tetap produktif tetapi aman beradaptasi dengan Covid-19,” ujarnya.

Berdasarkan data Kementerian Tenaga Kerja, angka kecelakaan kerja sepanjang 2016 – 2017 mampu ditekan. Tercatat pada 2015, jumlah kecelakaan kerja mencapai 110.285 kasus, pada 2016 tercatat menjadi 105.182 kasus dan pada 2017 terus menurun menjadi 80.392 kasus.


Sumber :
https://surabaya.bisnis.com/read/20200729/531/1272425/asosiasi-ahli-k3-jatim-siap-beri-edukasi-bagi-umkm

Saturday, July 25, 2020

Warung Bisnis dan Marketplace

Warbis Urai Kendala Pemasaran Lewat Marketplace

25 Juli 2020  |  20:10 WIB

Kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui gerakan koperasi kredit sering terkendala persoalan pemasaran produk anggota.

Permasalahan ini coba diurai dengan membentuk sebuah marketplace sendiri bernama Warbis alias Warung Bisnis yang berorientasi dari dan untuk anggota dan nantinya akan memiliki payment gateway tersendiri.

Direktur Utama PT Warbis Mitra Usaha R. Agung Nugraha menjelaskan bahwa pada mulanya, gerakan Warung Bisnis diinisiasi Kementerian Koperasi UKM dan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) sebagai gerakan offline yang menghimpun pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

“Setelah berjalannya waktu saya melihat bahwa kerbutuhan online lebih menjanjikan atau dibutuhkan daripada offline. Kemudian kita bikin aplikasi Warbis yang diresmikan 5 Januari 2020 oleh Deputi Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM Victoria Br. Simanungkalit,” ujarnya, Sabtu (25/7/2020).

Warbis, tuturnya, bertujuan untuk berikan ruang bagi anggota koperasi kredit khusus credit union (CU) agar bisa menjual produk dari anggota dan untuk anggota yang saat ini tercatat telah mencapai jumlah 3,5 juta orang, dengan aset puluhan triliun.

“Kenapa Warbis connect ke CU karena komunitas CU anggotanya dan potensinya besar. Selama ini memang ada keprihatinan bahwa CU belum punya wadah sehingga kami membuat wadah berjualan ini,” terangnya.

Selain itu, lanjutnya, marketplace ini selain menjadi wadah bagi anggota koperasi kredit di seluruh Indonesia, juga akan menjadi wadah penjualan di tingkat dunia. Pasalnya, saat ini, koperasi-koperasi kredit di setiap negara sudah mengoperasikan wadah penjualan atau mal online semacam ini.

“Harapannya kita punya tempat sendiri, di rumah sendiri tidak pakai marketplace orang lain, dan dikelola sendiri dan keuntungannya untuk kita sendiri,” ujarnya.

Menurutnya, wadah penjualan Warbis saat ini masih belum terkoneksi dengan sistem teknologi informasi Induk Koperasi Kredit (Inkopdit). Harapannya, dengan adanya gerakan Warbis yang makin masif di koperasi kredit, induk koperasi itu akan mengoneksikan sistem sehingga selain simpanan atau dana anggota langsung terhubung dengan Warbis, gerakan ini akan bisa memiliki payment gateway sendiri.

“Harapannya perputaran uang akan bergulir ke komunitas CU sendiri dengan mata uang digital yang diciptakan oleh CU sendiri,” lanjutnya.

Dia menambahkan, Warbis saat ini sudah terdaftar di Kementerian Komunikasi dan Informatika dan memiliki sistem keamanan teknologi informasi yang terus dikembangkan dengan server milik Inkopdit sehingga perawatannya tidak bergantung pada provider atau penyedia server lain.

Berdasarkan catatan Bisnis, Bank Indonesia mencatat bulan lalu penjualan e-commerce pada awal masa pandemi meningkat 18 persen. Sayangnya, UMKM yang terhubung dengan marketplace ini baru 13 persen atau sekitar 8 juta lebih pelaku usaha sehingga Kemenkop UKM menilai transformasi digitalisasi UMKM harus jadi agenda bersama.


Sumber :
https://entrepreneur.bisnis.com/read/20200725/263/1271162/warbis-urai-kendala-pemasaran-lewat-marketplace-

Friday, July 24, 2020

Jumlah UMKM yang Gugur dan Tumbuh karena Covid-19

Selama Pandemi Covid-19, Berapa Banyak UMKM yang Gugur dan Tumbuh?

24 Juli 2020  |  12:34 WIB

Selama masa pandemi Covid-19, banyaknya jumlah UMKM yang gulung tikar akibat krisis ternyata tidak mengurungkan niat tumbuhnya UMKM lain.

Menurut Founder dan CEO Legalku, M. Philosophi, selama masa pandemi Covid-19 tak dapat dipungkiri bahwa jumlah UMKM yang tutup usaha cukup banyak. Uniknya, selama 5 bulan masa karantina ini, ada banyak pula UMKM yang bermunculan.

“Jadi banyak yang gugur dan banyak juga yang baru tumbuh. Mungkin karena banyak yang kena PHK, lalu melihat ada peluang usaha baru muncul saat krisis ini,” kata Philo dalam IG Live bersama Bisnis, Jumat (24/7/2020).

Dia pun memberikan sejumlah tips sukses yang jitu bagi pelaku usaha yang baru memulai bisnis pada masa pandemi ini.

Pertama, pentingnya melakukan validasi bisnis. Adapun proses validasi ini adalah tahap awal memulai usaha, karena 90% potensi validasi bisa memproyeksikan peluang kesuksesan hingga kegagalan usaha terkait. Proses validasi yang penting dilakukan adalah validasi pasar (market validation) maupun validasi produk (product validation).

“Maka kita bisa mulai misalnya produknya skala kecil dulu yang berbiaya rendah, kalau masih belum optimis pada hasil validasi bisa dengan cara menjadi reseller dulu. Ketika proses validasi menyatakan sudah ada peluang pasar, barulah kita merilis produk,” ujar Philo.

Dia juga menegaskan dalam proses validasi, sangat penting bagi pelaku usaha mempersiapkan dana tunai untuk menjaga cash flow. Dengan dana tunai yang besar, maka pondasi usaha bisa lebih kuat melalui proses krisis yang penuh ketidakpastian.

“Jadi kalau misalnya bayar cicilan, ya cicilan jangan langsung full. Lalu kalau customer bisa biaya full, sebaiknya full. Kalau usaha B2B pastikan down payment bisa menutup capex. Jadi kata kuncinya, dengan cash yang banyak, UMKM laku, bisa meminimalisir krisis,” sambungnya.

Dia mengambil contoh, ada banyak klien Legalku yaitu UMKM sektor kuliner yang berguguran akibat cash flow yang mampet. Sebagai contoh, klien kuliner ini bermitra dengan hotel namun karena pembayaran dari hotel terkendala, akhirnya UMKM juga gugur.

“Maka penting sekali untuk berkolaborasi, pelaku usaha UMKM harus berkomunitas. Untuk sekiranya bisa menyelesaikan problem-problem tersebut,” ungkap Philo.


Sumber :
https://entrepreneur.bisnis.com/read/20200724/263/1270666/selama-pandemi-covid-19-berapa-banyak-umkm-yang-gugur-dan-tumbuh

Thursday, July 23, 2020

Digitalisasi UMKM 4.0

UMKM Malang Didorong Manfaatkan Platform Ekonomi Digital

23 Juli 2020  |  13:35 WIB

Pelaku usaha miko kecil menengah (UMKM) di Kota Malang didorong memanfaatkan platform ekonomi digital di tengah pandemi Covid-19.

Untuk itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang medorong percepatan pemanfaatan platform digital bagi UMKM di era pandemi Covid-19 dengan memberikan pelatihan dan pendampingan serta fasilitasi akses ke lembaga jasa keuangan.

Kepala OJK Malang Sugiarto Kasmuri mengatakan pandemi Covid-19 telah berdampak pada perekonomian Indonesia khususnya di Kabupaten Malang dan tidak terkecuali terhadap pelaku UMKM. Aktivitas masyarakat secara online tak terelakan lagi keberadaannya, terlebih untuk memenuhi anjuran pemerintah dalam upaya pencegahan penyebaran Covid-19 yang massif, baik dengan cara melakukan social distancing maupun physical distancing.

“Segala aktivitas masyarakat sekarang mulai bergeser dari offline menjadi secara online, baik itu berupa aktivitas rutin maupun nonrutin,” katanya di sela-sela “Digitalisasi UMKM 4.0” di Desa Kemantren, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, Kamis (23/7/2020).


Kondisi inilah, kata dia, yang perlu dicermati pelaku UMKM. Jika UMKM ingin survive diera adaptasi kebiasaan baru, maka mereka harus mampu memberi layanan online pada pembelinya.

Karena alasan itulah, sebagai bentuk dukungan pengembangan UMKM di masa pandemi, Otoritas Jasa Keuangan Malang melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPKAD) Kabupaten Malang mendorong UMKM untuk dapat melakukan adaptasi terhadap perubahan perilaku pasar a.l melalui digitalisasi UMKM.

Lewat pelatihan tersebut, dia berharap,pelaku UMKM yang terlibat dalam kegiatan ini dapat ditingkatkan kompetensi digitalnya a.l strategi bisnis, connecting to market place, social media handling, dan branding.

Beberapa faktor yang menyebabkan UMKM Indonesia mengalami perlambatan pertumbuhan usaha, menurut dia, yakni akses pasar, permodalan dan penguatan sumber daya manusia (SDM). Karena itulah dengan pelatihan ini, maka diharapkan UMKM mendapatkan manajemen skill.

Setelah pelatihan, UMKM nantinya akan didampingi oleh komunitas Jagoan Indonesia, komunitas penggiat UMKM di Indonesia, selain nantinya diberikan akses permodalan.

Setelah kegiatan pelatihan dan pendampingan selama kurang lebih satu bulan akan dilakukan monitoring dan dan evaluasi selama tiga bulan. Tindak lanjutnya, berupa business matching antara pelaku UMKM dengan lembaga jasa keuangan, sehingga dengan adanya kegiatan tersebut diharapkan tersalurkannya kredit/pembiayaan bagi para pelaku UMKM sehingga tercapai perluasan akses keuangan.

“Melalui digitalisasi, kami berharap UMKM akan siap bersaing di tengah era adaptasi kebiasaan baru. Ketika UMKM sudah dapat eksis dan kuat di era adaptasi kebiasaan baru,
diharapkan UMKM dapat tampil menjadi penyelamat serta penyangga ekonomi nasional di tengah krisis akibat Covid-19,” ucapnya.

Anggota Komisi XI DPR RI, Andreas Eddy Susetyo, menegaskan pemanfaatan platform digital suatu keniscayaan, terutama di era pandemi ini. Di era ini, usaha harus jalan, namun juga tetap menerapkan physical distancing. Karena itulah, solusinya lewat pemanfaatan platform digital.

Pemerintah sendiri, dia menegaskan, berkomitmen mengembangkan UMKM di era pandemi. Lewat program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), maka pemerintah mengalokasikan Rp370 triliun untuk membantu sektor UMKM agar bisa bergerak.

Sekretaris Daerah Kab. Malang Wahyu Hidayat menegaskan penggunaan platform digital bagi UMKM suatu keniscayaan di era Covid. Mereka perlu dilatih karena berdasarkan hasil survei BPS 2019, hanya 14,08% dari total UMKM yang memanfaatkan platform digital, sedangkan jenis UMKM yang memanfaatkan platform tersebut, yakni industri makanan dan minuman rumahan.


Sumber :
https://surabaya.bisnis.com/read/20200723/532/1270174/umkm-malang-didorong-manfaatkan-platform-ekonomi-digital-

Saturday, July 11, 2020

Pemerintah Dinilai Sudah Terlalu Lama Anak Tirikan UMKM

Sabtu, 11 Juli 2020 14:08 WIB

Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati, menilai pemerintah sudah terlalu lama menganaktirikan sektor UMKM. Porsi anggaran untuk pembiayaan dan permodalan sektor usaha menengah bawah ini, menurut dia, jauh di bawah industri besar.

“Permodalan untuk UMKM ini hanya 20 persen. Dan dalam upaya pemulihan ekonomi nasional, tools pemerintah untuk UMKM pun baru ditunjukkan dari sisi pembiayaan, belum pada apa yang punya dampak untuk menyelesaikan masalah,” katanya dalam diskusi bersama Smart FM, Sabtu, 11 Juli 2020.

Enny mengatakan di masa pandemi, semestinya pemerintah benar-benar berfokus menelaah bantuan-bantuan yang dibutuhkan untuk UMKM. Misalnya membuka akses pasar dan memberi pendampingan penuh untuk menciptakan produk-produk yang dibutuhkan oleh masyarakat sehingga kinerjanya produktif.

Apalagi, sebagian UMKM saat ini tak mampu berkembang sama sekali setelah adanya goncangan wabah corona. Ada pula pengusaha kecil yang masih mampu menghasilkan barang-barang produksi, tapi tidak dapat menyalurkannya ke market.

Momentum pandemi, tutur Enny, harus benar-benar dimanfaatkan pemerintah untuk memperkuat UMKM lantaran selama ini, sektor tersebut telah berkali-kali menyelamatkan perekonomian negara saat masa krisis. Lebih-lebih, UMKM berkontribusi besar terhadap produk domestik bruto (PDB) hingga 80 persen. “Jadi anak kandung perekonomian kita itu memang UMKM. Kalau diambil dari yang lain ya tidak akan cocok,” ucapnya.

Di sisi lain, Enny mengkritik langkah pemerintah yang selalu mencurahkan perhatian kepada sektor jumbo. Sedangkan dalam keadaan pandemi, pengusaha dari sektor ini terkesan malah semakin merongrong dengan meminta terus-terusan bantuan permodalan hingga stimulus lainnya.

Presiden Joko Widodo atau Jokowi dalam Sidang Kabinet Paripurna, Kamis, 18 Juni 2020, sempat menyentil Kementerian Koperasi dan usaha Kecil Menengah. Jokowi meminta Kementerian UKM segera merealisasikan stimulus di bidang ekonomi agar dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh UMKM.

"Mereka (usaha kecil, usaha mikro) semuanya menunggu. Jangan biarkan mereka mati dulu baru kita bantu, enggak ada artinya. Berbahaya sekali kalau perasaan kita enggak ada apa-apa, berbahaya sekali," kata Jokowi. Video rapat internal berisi arahan Presiden Jokowi itu baru diunggah kanal resmi Sekretariat Presiden di Youtube, Ahad, 28 Juni 2020.

Pemerintah sebetulnya telah menyiapkan sejumlah bantuan kepada UMKM di masa pandemi, salah satunya relaksasi kredit. Namun Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengakui restrukturisasi kredit untuk dunia usaha belum dinikmati semua pelaku usaha.

Menurut dia, pada akhir Juni lalu, masih ada 4 juta pelaku UMKM yang menjadi nasabah di Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang belum menerima subsidi bunga untuk restrukturisasi non-KUR (Kredit Usaha Rakyat). "Masih terkendala regulasi di tingkat pelaksana teknis," kata Teten.


Sumber :
https://bisnis.tempo.co/read/1363965/pemerintah-dinilai-sudah-terlalu-lama-anak-tirikan-umkm/full&view=ok

Sunday, June 28, 2020

Proyek BUMN ke UMKM

Erick Minta BUMN Alihkan Proyek Nilai Kecil ke UMKM

Minggu, 28 Juni 2020

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir meminta perusahaan negara untuk memprioritaskan proyek bernilai kecil dialihkan ke pelaku industri Usaha Mikro Kecil dan Menengan (UMKM).

“Nantinya, BUMN tidak boleh ikut tender apalagi yang kecil-kecil. Kita mau prioritaskan ke UMKM,” ujar Menteri Erick dalam diskusi daring, Sabtu (27/6/2020).

Ia mengatakan prioritas itu ditujukan ke delapan jenis usaha, diantaranya pengadaan makanan dan minuman hingga alat berat.

Dengan begitu, menurut Erick, dapat membuat pemerataan di dunia usaha untuk bersama-sama tumbuh yang akhirnya mendongkrak perekonomian nasional.

“Ini jadi tujuan ke depan dengan target Indonesia emas 2045, top lima besar ekonomi, pertumbuhan ekonomi 5,7 persen, populasi 319 juta dengan usia harapan hidup 75,5 tahun,” paparnya.

Dengan sumber daya alam dan jumlah penduduk Indonesia yang besar, Erick optimistis Indonesia akan mencapai tujuan itu.

“Indonesia bisa jadi negara besar karena dua hal, penduduk dan sumber daya alam. Kita jangan jadi pasar lagi. Kita punya yang namanya sumber daya alam, dan pasar yang sangat besar,” ucapnya.

Sebelumnya, Mardani H Maming Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) mengatakan, upaya Kementerian BUMN menghapus praktik monopoli proyek pemerintah menjadi angin segar bagi pengusaha muda agar lebih berkembang.

“Kami berterima kasih kepada Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir atas keputusannya yang membuka peluang bagi swasta dan UMKM untuk menggarap proyek yang nilainya berkisar Rp2 miliar Rp14 miliar. Saya yakin anggota HIPMI lebih semangat lagi untuk maju,” kata Mardani.

Menurut dia, saatnya pengusaha muda yang umumnya memiliki bidang usaha kategori UMKM diberikan kesempatan lebih luas untuk mengembangkan bisnis.

Salah satu pintu masuknya yaitu dapat menggarap proyek pembangunan dalam negeri yang banyak tersedia dari pemerintah.

“Kesempatan emas bersinergi dengan pemerintah harus benar-benar bisa dimanfaatkan kawan-kawan pelaku UMKM. Tunjukkan jika kita memiliki potensi asal diberi ruang terlibat,” tutur Mardani seperti dikutip Antara.


Sumber :
https://www.suarasurabaya.net/ekonomibisnis/2020/erick-minta-bumn-alihkan-proyek-nilai-kecil-ke-umkm

Tuesday, June 23, 2020

17 Startup Indonesia yang Ruang Lingkup Bisnisnya di UMKM

Laporan Kementerian Koperasi dan UKM RI menyatakan ada 64,2 juta unit Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia pada tahun 2018.

Mereka berkontribusi sebesar 60,3 persen dari total produk domestik bruto (PDB) Indonesia. UMKM juga mampu menyerap 97 persen dari total tenaga kerja dan 99 persen dari keseluruhan lapangan kerja. Tidak heran kalau sektor ini selalu mendapat perhatian serius dari pemerintah.


Sejumlah perusahaan teknologi kini juga berlomba-lomba mengalihkan fokus bisnisnya ke UMKM. Gojek, Tokopedia, dan Bukalapak saat ini bahkan menjadikan UMKM sebagai salah satu tulang punggung bisnis mereka. Utamanya dalam menghadapi situasi pandemi COVID-19 ini.

Ragam pendekatan dan solusi juga mewarnai sektor ini. Ada startup yang fokus menghadirkan layanan pinjaman usaha khusus kepada UMKM, memudahkan pengiriman (logistik), supplier, point-of-sale (POS) hingga Software as a service (SaaS).

Tech in Asia mencoba merangkum beberapa startup di Indonesia dengan visi dan model bisnis yang spesifik membantu UMKM. Daftar ini akan di-update secara berkala untuk memastikan kamu menerima informasi yang kredibel dan faktual.


Sumber :
https://id.techinasia.com/startup-umkm-indonesia

Thursday, June 18, 2020

UMKM dan Teknologi Tetap Produktif di New Normal

Setelah beberapa bulan terakhir menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah daerah, pemerintah Indonesia berencana menerapkan fase new normal (kenormalan baru) secara bertahap. Meski menuai banyak pertentangan, pemerintah beranggapan bahwa kebijakan ini diambil demi memulihkan ekonomi.

Secara sederhana, kondisi new normal yang dimaksud adalah penyesuaian pola aktivitas sehari-hari berdasarkan protokol kesehatan. Kebijakan ini membawa dampak dan perubahan yang tidak dapat dihindari di berbagai aspek kehidupan.

Di dunia profesional, misalnya, new normal membawa gagasan baru mengenai masa depan dunia kerja. Perubahan pola kerja akibat pembatasan sosial pun lantas membawa diskusi tentang kepemimpinan di ranah pekerjaan, seperti:

  • Memberi kepercayaan lebih tinggi terhadap karyawan, serta mengurangi praktik micromanagement,
  • Mengukur kinerja karyawan berdasarkan hasil alih-alih durasi bekerja, hingga
  • Menerapkan fleksibilitas dalam bekerja.


Perubahan pola kerja tak hanya berdampak pada perusahaan besar, tetapi juga bisnis kecil atau usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Meski kenormalan baru diharap mampu jadi angin segar bagi pemulihan ekonomi, pelaku UMKM sebaiknya tidak lengah untuk mengantisipasi tantangan yang mungkin timbul di masa ini.


Tantangan menerapkan protokol new normal

Bagi bisnis kecil, menjalankan panduan kesehatan, membatasi pelanggan di tempat, hingga menyediakan fasilitas sanitasi bisa jadi tantangan tersendiri. Pasalnya, masing-masing usaha punya pola kerja dan kemampuan finansial yang berbeda-beda. Di sisi lain, aturan pembatasan sosial dirasakan oleh sebagian besar kalangan bisnis, baik bisnis ataupun kecil.

Memberi kesempatan kepada karyawan untuk bekerja dari rumah juga jadi tantangan tersendiri bagi UMKM. Jika pekerjaan para karyawan tidak memungkinkan untuk dikerjakan dari rumah, maka pemilik bisnis pun harus menyiasatinya dengan menjadwal kapan mereka harus bekerja dari kantor.


Berinovasi dan beroperasi lebih lincah

Adanya aturan pembatasan sosial menyebabkan beberapa orang memilih berada di rumah. Ini jadi salah satu alasan yang mendorong UMKM untuk mulai berinovasi agar produknya bisa tetap menjangkau pelanggan, termasuk lewat adopsi saluran pemasaran digital.

Cofounder & Partner perusahaan konsultan SMB Group, Inc, Laurie McCabe, menyebutkan pentingnya UMKM melakukan inovasi di tengah kondisi ini. Menurutnya, kenormalan baru akan mendorong pemilik usaha untuk mencari cara inovatif dalam berbisnis.

Ia juga menyebut bisnis jasa konsultasi hukum atau finansial sebagai contoh. Pemilik bisnis jasa tersebut harus mengganti konsultasi tatap muka dengan cara yang baru. “Jadi, kamu menawarkan mereka cara untuk berbicara denganmu lewat panggilan video, dan ini mungkin jadi sesuatu yang akan terus kamu tawarkan kepada pelanggan di masa mendatang,” ungkapnya.

Sayangnya, dengan 64 juta populasi UMKM di Indonesia, data yang dirilis Kemenkop UMKM menunjukkan 87 persen UMKM masih tertinggal dari segi digital. Maka, kenormalan baru ini bisa jadi titik balik bagi UMKM untuk mempelajari pentingnya adopsi digital untuk kelangsungan bisnis mereka.


Sumber :
https://id.techinasia.com/umkm-dan-teknologi-tetap-produktif-di-new-normal

Wednesday, June 10, 2020

Dua Bisnis UMKM Bangkit Setelah Diserang Corona

Dua Bisnis UMKM Ini Bangkit Setelah Diserang Corona, Apa Rahasianya?

Melemahnya perputaran konsumsi dan daya beli masyarakat akibat pandemi COVID-19 memberikan dampak yang sangat berat terhadap para pelaku UMKM. UMKM sektor fashion dan makanan pun dinilai jadi salah dua sektor yang terkena dampak paling buruk akibat adanya pandemi ini.

Hal itu pun turut dirasakan oleh pemilik toko Grosir Baju Keisha asal Bandung Anggi. Penjualan utama yang berasal dari toko offline dan online terpaksa menurun drastis semenjak imbauan PSBB diberlakukan bahkan menyebabkan kerugian tinggi, namun ia bisa bangkit. Lantas apa rahasianya?

Anggi pun menyadari bahwa usaha rumahannya ini harus melakukan adaptasi bisnis secara total untuk menyelamatkan bisnis dan karyawannya. Alhasil, produk hoodie dan outerwear remaja yang sebelumnya menjadi produk utama bisnisnya kian berganti menjadi baju anak-anak.

Ia pun mendaftarkan diri untuk ikut dalam program Shopee Indonesia bertajuk 'Dukungan COVID-19 100M Shopee', sehingga beban operasional bisnisnya sangat terbantu, terlebih karena toko online Grosir Baju Keisha di Shopee menjadi sumber pemasukan utama.

Baca juga: Rahasia di Balik Bisnis Startup Moncer di Tengah Pandemi Corona
"Dengan memanfaatkan bantuan Shopee ini secara maksimal, pemasukan saya berhasil meningkat hingga 35% selama periode Ramadhan," ungkap Anggi dalam keterangan tertulis, Selasa (9/6/2020).

Program 'Dukungan COVID-19 100M Shopee' sendiri merupakan bantuan stimulus bagi para pelaku UMKM agar mendapatkan tambahan modal dan keringanan biaya admin atau layanan untuk membantu para UMKM mempertahankan basis konsumen mereka.

Stimulus yang telah membantu lebih dari 200.000 pelaku UMKM ini telah berhasil membantu para pelaku UMKM di seluruh Indonesia untuk menjangkau basis konsumennya digital secara lebih luas

Selain program stimulus yang diberikan Shopee, Anggi merasa bisnisnya bisa tetap dapat jalan secara optimal berkat bantuan dari fitur-fitur aplikasi Shopee, terutama Shopee Live yang sangat cocok untuk menjajakan produk fesyen dengan harga miring berkualitas tinggi seperti yang ditawarkan Grosir Baju Keisha.

Meski sudah tidak rutin dilakukan karena keterbatasan karyawan, toko besutan Anggi ini bisa menjangkau rata-rata ribuan penonton dalam 1x sesi Shopee Live. Anggi menyadari, tidak semua pelaku UMKM bisa dengan cepat menciptakan peluang untuk bisnisnya. Daerah Cijerah, Bandung, di mana produksi dan toko offline Grosir Baju Keisha berlokasi, dikenal sebagai daerah yang sarat akan pengusaha konveksi. Melihat usaha di sekitarnya yang tak lagi memiliki pesanan sama sekali, ia tergerak hatinya untuk membantu mereka semampunya.

"Saya langsung memproduksi masker kain agar dapat membantu bisnis konveksi yang dijalankan oleh warga setempat. Dengan memanfaatkan toko online-nya di Shopee yang telah memiliki ratusan ribu pengikut, Anggi dapat membantu memberikan eksposur dan menyelamatkan bisnis konveksi di sekitarnya," bebernya.

Sementara itu, lain halnya dengan bisnis fashion yang dimiliki Anggi, bisnis makanan kemasan asal Cicendo, Bandung milik pasangan Sherly dan William justru meraup keuntungan yang cukup tinggi semenjak adanya pandemi. Meskipun demikian, keduanya mengaku terbentur kendala penyediaan stok yang cukup signifikan semenjak imbauan PSBB diberlakukan.

Distribusi yang terbatas dari supplier lantas membatasi ruang gerak toko Snack Mazter untuk dengan cepat memenuhi permintaan yang melonjak, terutama di bulan Februari di mana Sherly dan William merasakan dampak dari panic buying yang terjadi di masyarakat.

Tak hanya itu, asam garam dalam menjalankan bisnis di tengah pandemi pun dirasakan oleh pasangan ini. Berbekal tekad untuk menjaga bisnis dan keinginan untuk tetap memberikan Tunjangan Hari Raya (THR) untuk semua karyawannya, mereka memaksimalkan segala upaya yang mereka bisa agar dapat terus beroperasi di lokasi yang ditetapkan sebagai zona merah COVID-19 di Bandung.

Kebijakan kebersihan dan pemberlakuan shift kerja pun diterapkan karena mengutamakan keamanan untuk semua karyawannya. Alhasil, Sherly dan William juga terjun langsung membantu operasional bisnis mereka untuk mengatasi jumlah manpower yang terbatas ini.

Selain mengutamakan kesehatan karyawan, pasangan ini juga ingin membantu para pelanggannya dengan berupaya menyediakan roduk-produk makanan sehat dan bergizi. Sherly dan William mengaku sering berinteraksi dengan pelanggan mereka dengan menggunakan fitur live chat Shopee untuk menanyakan kebutuhan pangan sehat yang ternyata jadi peluang bisnis baru bagi mereka.

Penjualan sereal granola, produk makanan kesehatan yang jadi produk baru di toko Snack Mazter, berhasil tumbuh hingga 8X lipat, melebihi penjualan produk makanan tematik selama Ramadhan.

"Saya telah membuka gerai online di Shopee sejak empat tahun lalu, operasional bisnis Snack Mazter sangat terbantu dengan adanya bantuan program Dukungan COVID-19 100M Shopee. Berkat keringanan biaya admin Star Seller yang diberikan dari bantuan tersebut, pasangan ini bisa terus mendapatkan pesanan dari pelanggan dengan memanfaatkan eksposur di Shopee," terangnya.

Selain itu, perpanjangan masa pengemasan juga sangat membantu UMKM seperti Snack Mazter yang memiliki kendala dalam rantai distribusinya. Selama pandemi COVID-19 dengan dukungan dari Shopee, penjualan dari gerai online milik Sherly dan William ini berhasil meningkat hingga 3X lipat.

"Meski kami dapat bertahan di situasi sulit ini, kami tidak ingin berhasil sendirian. Kami yakin, para pelaku UMKM dapat melalui ini jika bergerak bersama. Kami berterima kasih karena dengan bantuan Shopee, kami dapat berbagi dan mendapatkan ilmu dengan sesama UMKM yang sedang berjuang mempertahankan bisnis melalui webinar untuk komunitas penjual yang diadakan oleh Kampus Shopee secara cuma-cuma." jelas William.

Diketahui, selain mendapatkan bantuan ekonomi, Shopee juga telah bekerja sama dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia (Kemendes PDTT) untuk mewadahi dan memberikan pelatihan bagi para UMKM di daerah-daerah.


Sumber :
https://finance.detik.com/solusiukm/d-5047297/dua-bisnis-umkm-ini-bangkit-setelah-diserang-corona-apa-rahasianya

Sunday, June 7, 2020

Perbedaan Bisnis B2B dan B2C

Perbedaan Mendasar Antara Dua Jenis Bisnis B2B dan B2C

Pengertian bisnis secara umum pasti tidak terlepas dari aktivitas produksi, pembelian, penjualan, serta pertukaran barang dan jasa yang melibatkan orang atau perusahaan. Sedangkan dalam konteks yang lebih sempit, pengertian bisnis sering dikaitkan dengan usaha, perusahaan, atau organisasi yang menghasilkan barang dan jasa untuk menghasilkan laba atau keuntungan.

Ketika sebuah bisnis dibangun, salah satu fokus utama yang perlu dimatangkan adalah target pasar. Menentukan target pasar dari bisnis adalah kunci untuk perkembangan bisnis karena model bisnis dan strategi untuk mengembangkan bisnis tersebut bergantung pada target konsumen mereka.

Ada dua jenis dasar bisnis yaitu Business to Business  (B2B) dan Business to Customer (B2C). ketahui secara lebih lengkap tentang perbedaan keduanya.

Tujuan Bisnis & Pihak Berkepentingan Dalam Bisnis
Perbedaan Mendasar Antara Dua Jenis Bisnis B2B dan B2CTujuan dari suatu bisnis adalah untuk melayani kebutuhan pelanggan dan mencoba untuk memperoleh laba. Pada umumnya, setiap orang menjalankan suatu bisnis karena melihat suatu kesempatan untuk menciptakan barang atau jasa yang belum ditawarkan oleh perusahaan lain. Selain itu juga dapat dipengaruhi oleh adanya keinginan untuk memproduksi barang yang lebih murah dibandingkan dengan perusahaan lain. Dengan demikian, kesempatan untuk mendapatkan laba dapat lebih terbuka karena dapat menyediakan barang dan jasa bagi konsumen. Adapun pihak-pihak yang berkepentingan dalam suatu bisnis ada lima. Yaitu pemilik (owner), kreditor (creditor), karyawan (employee), pemasok, (supplier) serta pelanggan (customer).

Mengenal Jenis-Jenis Bisnis
Perbedaan Mendasar Antara Dua Jenis Bisnis B2B dan B2CBusiness to Business merupakan sebuah transaksi bisnis yang dilakukan secara elektronik maupun fisik dan terjadi antara entitas bisnis satu ke bisnis lainnya. B2B merupakan penjualan produk atau jasa yang diberikan oleh satu bisnis dan diperuntukkan untuk bisnis lainnya, bukan kepada konsumen. Sebagai contohnya, Anda menjalankan bisnis yang menjual bahan makanan dan Anda melakukan penjualan ke restoran atau bisnis kuliner yang ada. Inilah yang disebut dengan B2B karena bisnis atau jasa Anda diperuntukkan untuk perusahaan lain, bukan langsung kepada perorangan atau grup.

Kebalikan dari Business to Business, Business to Customer  merupakan bisnis yang melakukan pelayanan atau penjualan barang atau jasa kepada konsumen perorangan atau grup secara langsung. Dengan kata lain, bisnis jenis ini berhubungan langsung dengan konsumen bukan perusahaan atau bisnis lainnya. Sebagai contohnya, Anda memiliki bisnis sembako. Ketika Anda menjual barang kepada konsumen perorangan, berarti bisnis Anda B2C. Akan tetapi jika Anda menjual sembako dalam jumlah besar kepada bisnis lainnya, berarti bisnis Anda adalah B2B. Pada umumnya, hampir semua produk B2C dapat menjadi produk B2B. Sedangkan produk B2B sangat sedikit digunakan oleh konsumen perorangan secara langsung.

Perbedaan Strategi Marketing B2B dan B2C
Perbedaan Mendasar Antara Dua Jenis Bisnis B2B dan B2CStrategi marketing Business to Business adalah bagaimana Anda dapat membuat calon pelanggan percaya terhadap kualitas brand Anda. Oleh karena itu, Anda harus memperkuat kualitas bisnis Anda. Bagaimana kualitas produk, kualitas pelayanan, hingga komunikasi dengan pelanggan Anda harus terus diperbaiki. Ketika pelanggan Anda adalah bisnis atau perusahaan lainnya,maka Anda harus membangun relasi yang cukup kuat di sektor bisnis ini.

Bisnis B2B dan B2C jelas mempunyai target marketing yang sangat berbeda. B2C memiliki target marketing perorangan atau grup, sedangkan Business to Business target marketingnya adalah bisnis atau perusahaan lain. Perbedaan lainnya adalah kemampuan pembelian antara B2C dan B2B sangat berbeda. Untuk B2C Anda tidak bisa memprediksi daya beli calon pelanggan, tetapi untuk B2B Anda bisa memiliki calon pelanggan yang mempunyai daya beli sangat tinggi. Hal ini dikarenakan target marketing Anda adalah perusahaan atau bisnis lain yang sudah besar dan tentu mempunyai uang yang cukup banyak.

Pada model bisnis B2C, Anda dapat membuat promosi di social media dan membuat website. Selain social media dan website, Anda juga dapat membuat strategi marketing iklan di media cetak atau brosur. Cara ini akan sangat berguna ketika Anda akan memasuki pasar baru. Sedangkan untuk target marketing B2B, para pebisnis atau perusahaan tidak akan langsung tertarik dengan produk yang Anda iklankan di internet atau brosur. Ketika volume pembelian yang dilakukan sangat tinggi, pebisnis atau perusahaan tersebut akan melihat secara detail seperti apa produk dan brand yang Anda miliki, bagaimana track record, bagaimana testimoni pelanggan lain dan hal-hal detail lainnya.

Perbedaan Perusahaan B2B dengan B2C
Perbedaan Mendasar Antara Dua Jenis Bisnis B2B dan B2CPerusahaan B2B lebih dekat pada sektor industri, sedangkan B2C lebih berfokus pada pengguna atau pelanggan. Pendekatan pemasaran digital pada kedua jenis perusahaan tersebut akan berbeda, yang terkait dengan karakter saluran pemasaran digital. Seperti B2C, mungkin lebih cocok menggunakan Facebook, Instagram, Twitter, dan Youtube untuk mendapatkan audience reach. Sedangkan perusahaan Business to Business dapat melakukan proses in bound pada target yang sudah mereka tetapkan untuk kemudian mendapatkan prospek-prospek berkualitas (qualified-leads). Berdasarkan hal tersebut, maka dapat dipahami perbedaan keduanya:

B2C lebih customer-centric, sedangkan Business to Business lebih berfokus pada industri.
Pendekatan social media berbeda diantara kedua jenis usaha tersebut, sehingga harus disesuaikan pada masing-masing karakteristik sosial media.

Konten pada website Business to Business dan B2C juga berbeda. Pendekatan konten Business to Business akan lebih berfokus pada edukasi. Serta berfokus pada apa yang dapat mendatangkan solusi untuk mendapatkan TRUST dan Call To Action.

Solusi dan referensi pengalaman lebih penting pada Business to Business dibanding pada B2C.
Social public relation tidak terlalu diperlukan pada jenis Business to Business. Namun pada B2C Social PR merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari program marketing secara keseluruhan.

Persamaan Pendekatan Dasar
Perbedaan Mendasar Antara Dua Jenis Bisnis B2B dan B2CDari berbagai perbedaan antara jenis Business to Business dan Business to Customer, terdapat juga beberapa pendekatan dasar yang sama. Diantaranya adalah penargetan, pembuatan konten, penyebaran informasi, dan monitoring. Oleh karena itu, pada dasarnya anggaran promosi di suatu perusahaan akan besar saat di awal, dan akan mulai mengecil setelah gebrakan awal mendapat konversi yang positif.


Kesimpulan
Jenis Business to Business (B2B) lebih menekankan fokus mereka kepada kualitas dari produk dan jasa yang ditawarkan. Kepercayaan dari pelanggan merupakan prioritas utama karena jenis Business to Business mementingkan konsep kerjasama yang berkelanjutan (retainer) dengan para pelanggannya.

Berbeda dengan Business to Business, jenis bisnis Business to Consumer(B2C) wajib mengutamakan jaringan yang luas untuk setiap lini bisnisnya, mulai dari pemasaran hingga distribusi produk karena semakin banyak pelanggan akan semakin baik untuk bisnis mereka.

Dengan membaca informasi di atas, diharapkan sebagai pengusaha Anda dapat membandingkan dua jenis bisnis sehingga dapat membuat strategi marketing yang tepat. Untuk membantu Anda dalam mengelola bisnis, Jurnal adalah solusi terbaik yang dapat Anda pilih. Jurnal hadir dengan fitur terbaik untuk menunjang kesuksesan bisnis Anda. Dengan menggunakan layanan software akuntansi online Jurnal, Anda akan lebih mudah dan praktis dalam mengelola keuangan bisnis Anda. Data pada Jurnal telah tersimpan di cloud, sehingga Anda akan lebih mudah untuk memonitor laporan keuangan secara realtime.


Sumber :
https://www.jurnal.id/id/blog/perbedaan-bisnis-b2b-dan-b2c/#:~:text=B2B%20merupakan%20penjualan%20produk%20atau,atau%20bisnis%20kuliner%20yang%20ada.

Sunday, May 31, 2020

5 Profil UMKM di Indonesia yang Sukses

5 Profil UMKM di Indonesia yang Sukses dengan Modal Kecil

Usaha Mikro Kecil Menengah atau UMKM memiliki peran penting dalam kemajuan perekonomian di Indonesia. Masyarakat bisa hidup mandiri secara finansial berkat UMKM. Ada banyak contoh UMKM di Indonesia yang bisa sukses dengan modal kecil. \

Berikut 5 profil UMKM di Indonesia yang bermodal kecil tapi sukses besar.


Boboko Snack

Boboko Snack adalah usaha makanan ringan yang dirintis oleh seorang pria asal Bandung bernama Irpan Salim. Pria yang biasa dipanggil Ivan ini memulai bisnisnya pada akhir tahun 2015 lalu. Berawal dari bisnis rumahan makanan kecil yang diberi nama Jank Snack, produk Ivan berkembang semakin sukses.

Boboko adalah produk makanan kecil khas Sunda dengan banyak varian. Beberapa pilihan makanan ringan dari Boboko adalah seblak kering, basreng atau bakso goreng, kicimpring, makaroni, dan ramen sunda. Pilihan produk lainnya bisa Anda lihat secara langsung di akun Instagram @bobokosnackofficial.


Ant Man

Profil UMKM di Indonesia yang cukup menarik dan unik adalah Ant Man. Ant Man menghasilkan produk miniatur aneka jenis barang. Bisnis dengan ide yang kreatif ini dirintis oleh seorang wanita bernama Marissa Haryati. Produk miniatur dari Marissa ini menjadi pilihan suvenir dan pajangan yang menarik.

Banyak sekali jenis barang yang dijadikan miniatur oleh Ant Man. Mulai dari produk makanan kemasan hingga berbagai jenis benda lainnya yang ada di sekitar kita. Produk miniatur ini juga dijual dalam bentuk tempelan magnet untuk kulkas, gantungan kunci, anting-anting, dan lain sebagainya.


Dhenisa Mozaik

Dhenisa Mozaik adalah produk kerajinan mosaik dari bahan limbah kaca. UMKM ini dimulai oleh seorang wanita asal Bandung bernama Sunarti dan suaminya yaitu Herru Rezequin. Kerajinan mosaik berbahan kaca ini hadir dalam berbagai macam bentuk. Ada produk berupa pot, vas bunga, kaca, dan lain sebagainya.

Usaha kerajinan ini berawal dari ketertarikan Sunarti terhadap kerajinan Mosaik yang ia temui di Bali. Sampai sekarang, produk kerajinan mosaik dari Sunarti diburu oleh banyak orang. Tak hanya konsumen dari dalam negeri, Sunarti juga mendapat banyak konsumen dari luar negeri seperti turis Belanda, Italia, Pakistan, dan lain sebagainya.


Medan Hantaran

Medan Hantaran adalah bisnis bermodal kecil yang dirintis oleh seorang perempuan bernama Yuni. Bisnis ini menyediakan jasa pembuatan hantaran untuk keperluan lamaran. Tak banyak yang menyangka bahwa bisnis ini ternyata dimulai oleh Yuni tanpa modal.

Yuni memulai usaha ini dengan mengunggah foto desain hantaran di akun Instagram. Jika ada pesanan yang masuk, maka pelanggan harus membayar uang muka. Uang ini dijadikan sebagai modal oleh Yuni. Keuntungan dari pesanan yang ia dapatkan dijadikan modal untuk pembuatan pesanan berikutnya dan begitu seterusnya.


Kebab Pisang Pus1ng

Kebab Pisang Pus1ng adalah usaha kuliner yang dijalankan oleh Ida Amarwati. Usaha ini bermula dari perjuangan Ida berjualan nasi bebek kemudian beralih berjualan kebab. Bermula dari berdagang kecil-kecilan, Ida dan suaminya membesarkan produk kebab mereka. Kini, Kebab Pisang Pus1ng juga sudah merambah franchise.

Banyak hal yang telah dilalui Ida dan suaminya untuk membesarkan bisnis ini. Menurut Ida, kunci penting membesarkan bisnis ini terletak pada kemampuannya dalam belajar. Baginya, setiap pelaku UMKM bisa meraih sukses jika selalu belajar dan haus akan ilmu baru.


Sumber :
https://www.mbizmarket.co.id/news/profil-umkm-di-indonesia/

5 Pebisnis UKM Sukses Indonesia

5 Pebisnis UKM Sukses Indonesia yang Jadi Teladan Anak Muda, Simak Kisahnya

Berbisnis UKM ternyata tidaklah mudah. Namun, nyatanya ada banyak pebisnis UKM Sukses Indonesia yang menjadi inspirasi para start up.

Penasaran siapa saja mereka? Simak dulu kisahnya dalam artikel Finansialku berikut ini. Selamat membaca!


#1 Gibran Rakabuming

Apakah Anda sudah pernah mendengar nama pebisnis UKM yang satu ini? Ya, Gibran Rakabuming adalah putra nomor satu dari Presiden kita saat ini, Bapak Joko Widodo. Usaha yang digeluti oleh Gibran Rakabuming ini termasuk usaha yang sederhana dan jauh dari kata ribet.

Meskipun ayahnya sendiri juga menggeluti sebuah bisnis, namun bisnis yang digeluti Gibran sangat berbeda dengan bisnis ayahnya. Jika ayahnya memiliki bisnis mebel, Gibran lebih memilih untuk menggeluti bisnis kuliner.

Bisnis kuliner yang ia jalani saat ini ada banyak jenisnya. Ada bisnis katering, rumah makan, serta wedding organizer. Menurutnya, beberapa bisnis kuliner yang ia tekuni sampai sekarang memiliki prospek yang bagus baik saat ini maupun di masa depan.

Ada satu hal yang perlu diteladani oleh anak muda dari seorang Gibran Rakabuming.

Meskipun ia memiliki orang tua yang berkecukupan, ia tak mengandalkan orang tuanya untuk memulai bisnis. Gibran mengaku memulai bisnisnya dari pengajuan sebuah proposal ke beberapa bank, dan proposal yang disetujui inilah yang membantu ia merintis bisnisnya dari nol.

Awal mulanya ia membuat bisnis katering yang ia beri nama “Chilli Pari”.


#2 Nicholas Kurniawan

Kisah yang datang dari Nicholas Kurniawan hampir sama dengan kisah dari Gibran Rakabuming. Persamaannya adalah keduanya sama-sama memulai bisnis dari nol dan tanpa bantuan dari orang tua. Nah, Nicholas Kurniawan mengalami masa-masa berat saat ia masih muda karena ia datang dari keluarga yang kurang beruntung soal keuangan.

Nicholas muda berusaha melakukan sesuatu yang mana bisa mengubah nasibnya dan keluarganya. Berbagai usaha seperti MLM, mainan, dan kuliner pernah ia coba sampai akhirnya Nicholas pernah tinggal kelas sewaktu ia SMA.

Hal tersebut wajar-wajar saja karena di saat yang lain sibuk belajar, Nicholas sibuk memikirkan bisnisnya. Bisnis-bisnis yang ia rintis tersebut rupanya tidak berjalan dengan baik. Lalu ia beralih dengan melakukan bisnis berjualan ikan hias.

Awalnya memang biasa saja, namun semakin ditekuni bisnis tersebut berkembang hingga saat ini Nicholas menjadi eksportir ikan hias yang sukses di Indonesia.


#3 Hamzah Izzulhaq

Hamzah masa kecil sudah tertarik di dunia bisnis, lebih tepatnya ke berjualan. Ada cukup banyak objek yang telah ia jadikan bahan berjualan di masa muda. Hamzah pernah berjualan koran, petasan, kelereng, dan lainnya.

Hamzah juga pernah menjadi tukang parkir dadakan. Beberapa hal tersebut sengaja ia lakukan karena ia berkeinginan keras untuk mencari uang sendiri. Sampai akhirnya Hamzah beranjak menjadi seorang remaja, ia berkenalan dengan seseorang yang usianya lebih tua darinya.

Orang yang baru ia kenal tersebut memiliki sebuah usaha bimbingan belajar yang telah memiliki puluhan cabang di beberapa kota. Rupanya usaha tersebut menarik perhatian seorang Hamzah Izzulhaq.

Karena ia sudah mantap dengan usaha tersebut, ia mengiyakan tawaran dari orang yang dikenalnya dengan membeli bisnis bimbingan belajar tersebut dengan harga sekitar Rp175 juta. Hingga sampai saat ini, bisnis bimbingan belajar yang ia tekuni telah berkembang dan memiliki sekitar 200 siswa setiap pergantian semester.


#4 Bob Sadino

Rasanya hampir semua orang pernah mendengar nama pebisnis yang satu ini. Bob Sadino memiliki nama lengkap Bambang Mustari Sadino. Sebelum menjadi pebisnis yang sangat sukses, ia pernah bekerja di salah satu perusahaan BUMN dengan menjadi seorang karyawan.

Selama sembilan tahun ia bekerja sebagai karyawan BUMN, Bob Sadino memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya dan memulai bisnisnya sendiri. Awal mulanya ia menggeluti bisnis rental mobil. Usaha rental mobil ini sempat berhenti karena Bob mengalami kecelakaan lalu lintas.

Entrepreneur nyentrik Bob Sadino yang lahir di Lampung pada tanggal 9 Maret 1933 dan telah tutup usia pada tanggal 19 Januari 2015 ini merupakan Bapak yang sangat menginsipirasi dan mempunyai nilai-nilai kehidupan yang sangat tangguh!

Beralih ke bisnis lain, ia melakukan pekerjaan lain juga untuk mendapatkan modal. Bahkan Bob sendiri pernah menjadi buruh bangunan harian. Setelah beberapa modal terkumpul ia memulai bisnis ternak ayam, dan bisnisnya inilah yang mencapai kesuksesan besar.

Bob Sadino dikenal sebagai pengusaha yang sukses namun bergaya seperti orang biasa saja. Justru gaya biasa saja inilah yang seharusnya menginspirasi para anak muda untuk tidak terlalu mementingkan gaya pakaian apabila telah sukses.



#5 Yasa Singgih

Yasa Singgih juga telah tertarik di dunia bisnis sejak ia remaja. Saat teman-temannya sibuk belajar dan bermain, Yasa sudah berpikir dan melakukan cara untuk mendapatkan uang yang banyak. Kesuksesannya yang sekarang tak luput dari kegagalan juga.

Sebelumnya ia telah memiliki bisnis untuk berjualan lampu hias, karena dirasa kurang bagus prospeknya ia beralih ke bisnis lainnya. Ia sebelumnya juga aktif menjadi pembawa acara. Sampai akhirnya ia membangun sebuah bisnis fashion pria yang rupanya membawanya menuju kesuksesan.

Bisnis fashion pria yang dimiliki seorang Yasa Singgih ini bernama Mens Republic.


Sumber :
https://www.finansialku.com/ukm-sukses-indonesia/

Ide Bisnis saat Pandemi Corona

Ada Corona, Ini Ide Bisnis yang Banyak Dicari Orang Menurut Pakar

Masyarakat kini diimbau pemerintah untuk tidak keluar rumah demi mencegah penyebaran virus Corona yang semakin merajalela. Aturan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) pun diberlakukan di sejumlah wilayah di Indonesia.

Adanya PSBB ini semakin membatasi ruang gerak masyarakat, termasuk untuk keluar rumah mencari makanan atau membeli kebutuhan rumah tangga. Situasi ini menurut Ketua Umum Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI), Tri Raharjo, SE, MM, membuat tren belanja online mengalami peningkatan.

"Belanja online mengalami pertumbuhan karena banyak mall yang tutup, restoran karena ada social distancing sekarang take away, onlineshop penjualannya meningkat karena orang enggan keluar rumah, stay at home," ujar Tri.

Tri menambahkan produsen di masa sekarang ini harus sigap memasarkan produknya secara online. Founder Komunitas Indonesia Brand Network itu mengatakan cara tersebut efektif di masa PSBB, karena sebagian besar orang kini harus berada di rumah. Dan masyarakat biasanya mencari produk dengan browsing terlebih dahulu atau mencari langsung ke market place.

Lantas produk apa saja yang sekarang banyak dicari orang di masa WFH dan pandemi Corona ini?

Berikut ini berbagai produk yang bisa jadi ide bisnis baru di tengah Corona:

Produk Kesehatan

Tri menjelaskan sektor atau bidang usaha yang berkembang di saat pandemi virus Corona ini salah satunya usaha yang berhubungan dengan kesehatan karena sedang dibutuhkan oleh masuarakat.

"Kalau sekarang tentunya produk-produk kesehatan yang dibutuhkan. Seperti imbauan pemerintah mewajibkan ketika kita keluar harus memakai masker. Sudah pasti kalau penduduk Indonesia 260 juta jiwa artinya potensi pasar masker akan bertumbuh kencang," ujarnya.

Selain masker, hand sanitizer juga banyak dibutuhkan di masa sekarang ini. "Ketika kita ke minimarket, perkantoran atau tempat tertentu, mereka sudah menyiapkan hand sanitizer, akan mengalami pertumbuhan demand karena hampir semua orang membutuhkan," jelasnya.

Produk kesehatan lain yang juga banyak dicari orang di saat Corona ini adalah alat scan suhu. Apalagi sekarang bukan hanya perkantoran dan mall saja yang mengukur suhu pengunjung, banyak kompleks perumahan kini juga melakukan hal serupa.


Produk Makanan Ringan

Selanjutnya menurut Chairman TRAS N CO Indonesia dan INFO BRAND Group itu, produk-produk camilan atau makan ringan juga dibutuhkan di masa sekarang ini. Menurutnya saat keluarga kumpul di rumah, mereka, terutama anak-anak suka ngemil.


Produk Makanan Ready To Eat atau Ready To Cook

Ibu-ibu di masa pandemi Corona ini juga banyak mencari makanan yang siap dimasak atau dimakan seluruh keluarga. Dan pencarian ini mereka lakukan secara online. Oleh karena itulah menurut Tri, pelaku usaha restoran mengalihkan bisnisnya melalui ranah online.

"Pemain kuliner saya kira harus mengalihkan pola pasarnya. Kalau melalui restoran hanya 20%, 80%-nya harus masuk ke ranah online," katanya.

Mengalihkan penjualan ke ranah online ini tak hanya berlaku untuk pengusaha kuliner saja, bidang lain pun dapat melakukannya. Apalagi saat ini di masa PSBB pemerintah tetap mengizinkan ojek online untuk mengantar makanan atau barang.

"Saya kira itu memudahkan. Dan orang yang mau usaha dengan modal ringan, ini bisa menjadi suatu peluang. Selain aksi sosial bisa juga membuka peluang pasar yang besar. Jadi para reseller atau tenaga penjualnya kita berikan komisi tertentu dan kita ajarkan melalui online, saya rasa sangat memungkinkan," ujar Tri.


Sumber :
https://wolipop.detik.com/worklife/d-4982852/ada-corona-ini-ide-bisnis-yang-banyak-dicari-orang-menurut-pakar

Saturday, May 30, 2020

Tangkap Peluang Bisnis Baru

New Normal Buka Kesempatan Pengusaha Tangkap Peluang Bisnis Baru

Wiyono Pontjoharyo Dosen Ekonomi Akutansi  Universitas Surabaya (Ubaya), mengatakan, era New Normal ini membuka peluang bagi pengusaha untuk menangkap peluang bisnis baru, seperti memanfaatkan teknologi baik sosial media maupun medium yang lain untuk menawarkan produk mereka.

Menurutnya, New Normal sedikit banyak akan mengubah pola distribusi dari produsen ke konsumen menjadi lebih pendek. Ini dikarenakan dengan adanya adanya tatanan hidup baru selama pandemi Covid-19 berlangsung, pola interaksi langsung semakin terbatas dan masyarakat lebih memilih memanfaatkan teknologi untuk memenuhi keperluan mereka.

“Secara manusiawi, sejak pandemi ini interaksi manusia semakin turun. Kalau bicara New Normal, interaksi langsung turun tapi IT makin gencar. Bisnis yang berhubungan dengan hal-hal tersebut akan makin terpengaruh,” kata Wiyono kepada Radio Suara Surabaya, Sabtu (30/5/2020).

Ia juga mengatakan, tidak ada pilihan bagi pelaku bisnis untuk beradaptasi dengan konsep bisnisnya karena tidak ada yang tahu kapan pandemi benar-benar akan berakhir. Bahkan, mereka harus menyiapkan diri paling tidak satu tahun ke depan sebagai bentuk transisi pola bisnis sebelum dan pascapandemi Covid-19.

Untuk itu, lanjut Wiyono, penting bagi pelaku bisnis untuk memulai perubahan mulai dari sekarang. Karena krisis akan menjadi keuntungan sendiri jika mereka lebih responsif dalam menangkap peluang.

“Maka ini sudah proses penyesuaian siapapun yang lebih responsif melihat opportunity (kesempatan) bagi orang-orang muda, itu kalau mereka mau produktif,” ujarnya.

Dengan memanfaatkan teknologi, rangkaian distribusi yang biasanya bisa sampai 6-7 tingkat, maka sekarang dapat lebih cepat. Ia menambahkan, meski nantinya pandemi berakhir dan kembali ke situasi normal, maka situasi normal tersebut akan berbeda tidak lagi sama dengan situasi normal seperti sebelum pandemi.

Sehingga menurutnya, tidak masalah jika pelaku bisnis mulai bereksperimen mengubah konsep bisnisnya mulai dari sekarang dengan memanfaatkan media online.

“Kalau dari segi ekonomi, nanti akan kembali ke kondisi normal tapi formatnya agak berbeda. Seperti delivery langsung, sekarang jadi tidak langsung. Itulah pentingnya teknologi semakin menjangkau konsumen,” tambahnya.


Sumber :
https://www.suarasurabaya.net/ekonomibisnis/2020/new-normal-buka-kesempatan-pengusaha-tangkap-peluang-bisnis-baru/