Pages

Sunday, June 28, 2020

Proyek BUMN ke UMKM

Erick Minta BUMN Alihkan Proyek Nilai Kecil ke UMKM

Minggu, 28 Juni 2020

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir meminta perusahaan negara untuk memprioritaskan proyek bernilai kecil dialihkan ke pelaku industri Usaha Mikro Kecil dan Menengan (UMKM).

“Nantinya, BUMN tidak boleh ikut tender apalagi yang kecil-kecil. Kita mau prioritaskan ke UMKM,” ujar Menteri Erick dalam diskusi daring, Sabtu (27/6/2020).

Ia mengatakan prioritas itu ditujukan ke delapan jenis usaha, diantaranya pengadaan makanan dan minuman hingga alat berat.

Dengan begitu, menurut Erick, dapat membuat pemerataan di dunia usaha untuk bersama-sama tumbuh yang akhirnya mendongkrak perekonomian nasional.

“Ini jadi tujuan ke depan dengan target Indonesia emas 2045, top lima besar ekonomi, pertumbuhan ekonomi 5,7 persen, populasi 319 juta dengan usia harapan hidup 75,5 tahun,” paparnya.

Dengan sumber daya alam dan jumlah penduduk Indonesia yang besar, Erick optimistis Indonesia akan mencapai tujuan itu.

“Indonesia bisa jadi negara besar karena dua hal, penduduk dan sumber daya alam. Kita jangan jadi pasar lagi. Kita punya yang namanya sumber daya alam, dan pasar yang sangat besar,” ucapnya.

Sebelumnya, Mardani H Maming Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) mengatakan, upaya Kementerian BUMN menghapus praktik monopoli proyek pemerintah menjadi angin segar bagi pengusaha muda agar lebih berkembang.

“Kami berterima kasih kepada Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir atas keputusannya yang membuka peluang bagi swasta dan UMKM untuk menggarap proyek yang nilainya berkisar Rp2 miliar Rp14 miliar. Saya yakin anggota HIPMI lebih semangat lagi untuk maju,” kata Mardani.

Menurut dia, saatnya pengusaha muda yang umumnya memiliki bidang usaha kategori UMKM diberikan kesempatan lebih luas untuk mengembangkan bisnis.

Salah satu pintu masuknya yaitu dapat menggarap proyek pembangunan dalam negeri yang banyak tersedia dari pemerintah.

“Kesempatan emas bersinergi dengan pemerintah harus benar-benar bisa dimanfaatkan kawan-kawan pelaku UMKM. Tunjukkan jika kita memiliki potensi asal diberi ruang terlibat,” tutur Mardani seperti dikutip Antara.


Sumber :
https://www.suarasurabaya.net/ekonomibisnis/2020/erick-minta-bumn-alihkan-proyek-nilai-kecil-ke-umkm

Tuesday, June 23, 2020

17 Startup Indonesia yang Ruang Lingkup Bisnisnya di UMKM

Laporan Kementerian Koperasi dan UKM RI menyatakan ada 64,2 juta unit Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia pada tahun 2018.

Mereka berkontribusi sebesar 60,3 persen dari total produk domestik bruto (PDB) Indonesia. UMKM juga mampu menyerap 97 persen dari total tenaga kerja dan 99 persen dari keseluruhan lapangan kerja. Tidak heran kalau sektor ini selalu mendapat perhatian serius dari pemerintah.


Sejumlah perusahaan teknologi kini juga berlomba-lomba mengalihkan fokus bisnisnya ke UMKM. Gojek, Tokopedia, dan Bukalapak saat ini bahkan menjadikan UMKM sebagai salah satu tulang punggung bisnis mereka. Utamanya dalam menghadapi situasi pandemi COVID-19 ini.

Ragam pendekatan dan solusi juga mewarnai sektor ini. Ada startup yang fokus menghadirkan layanan pinjaman usaha khusus kepada UMKM, memudahkan pengiriman (logistik), supplier, point-of-sale (POS) hingga Software as a service (SaaS).

Tech in Asia mencoba merangkum beberapa startup di Indonesia dengan visi dan model bisnis yang spesifik membantu UMKM. Daftar ini akan di-update secara berkala untuk memastikan kamu menerima informasi yang kredibel dan faktual.


Sumber :
https://id.techinasia.com/startup-umkm-indonesia

Thursday, June 18, 2020

UMKM dan Teknologi Tetap Produktif di New Normal

Setelah beberapa bulan terakhir menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah daerah, pemerintah Indonesia berencana menerapkan fase new normal (kenormalan baru) secara bertahap. Meski menuai banyak pertentangan, pemerintah beranggapan bahwa kebijakan ini diambil demi memulihkan ekonomi.

Secara sederhana, kondisi new normal yang dimaksud adalah penyesuaian pola aktivitas sehari-hari berdasarkan protokol kesehatan. Kebijakan ini membawa dampak dan perubahan yang tidak dapat dihindari di berbagai aspek kehidupan.

Di dunia profesional, misalnya, new normal membawa gagasan baru mengenai masa depan dunia kerja. Perubahan pola kerja akibat pembatasan sosial pun lantas membawa diskusi tentang kepemimpinan di ranah pekerjaan, seperti:

  • Memberi kepercayaan lebih tinggi terhadap karyawan, serta mengurangi praktik micromanagement,
  • Mengukur kinerja karyawan berdasarkan hasil alih-alih durasi bekerja, hingga
  • Menerapkan fleksibilitas dalam bekerja.


Perubahan pola kerja tak hanya berdampak pada perusahaan besar, tetapi juga bisnis kecil atau usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Meski kenormalan baru diharap mampu jadi angin segar bagi pemulihan ekonomi, pelaku UMKM sebaiknya tidak lengah untuk mengantisipasi tantangan yang mungkin timbul di masa ini.


Tantangan menerapkan protokol new normal

Bagi bisnis kecil, menjalankan panduan kesehatan, membatasi pelanggan di tempat, hingga menyediakan fasilitas sanitasi bisa jadi tantangan tersendiri. Pasalnya, masing-masing usaha punya pola kerja dan kemampuan finansial yang berbeda-beda. Di sisi lain, aturan pembatasan sosial dirasakan oleh sebagian besar kalangan bisnis, baik bisnis ataupun kecil.

Memberi kesempatan kepada karyawan untuk bekerja dari rumah juga jadi tantangan tersendiri bagi UMKM. Jika pekerjaan para karyawan tidak memungkinkan untuk dikerjakan dari rumah, maka pemilik bisnis pun harus menyiasatinya dengan menjadwal kapan mereka harus bekerja dari kantor.


Berinovasi dan beroperasi lebih lincah

Adanya aturan pembatasan sosial menyebabkan beberapa orang memilih berada di rumah. Ini jadi salah satu alasan yang mendorong UMKM untuk mulai berinovasi agar produknya bisa tetap menjangkau pelanggan, termasuk lewat adopsi saluran pemasaran digital.

Cofounder & Partner perusahaan konsultan SMB Group, Inc, Laurie McCabe, menyebutkan pentingnya UMKM melakukan inovasi di tengah kondisi ini. Menurutnya, kenormalan baru akan mendorong pemilik usaha untuk mencari cara inovatif dalam berbisnis.

Ia juga menyebut bisnis jasa konsultasi hukum atau finansial sebagai contoh. Pemilik bisnis jasa tersebut harus mengganti konsultasi tatap muka dengan cara yang baru. “Jadi, kamu menawarkan mereka cara untuk berbicara denganmu lewat panggilan video, dan ini mungkin jadi sesuatu yang akan terus kamu tawarkan kepada pelanggan di masa mendatang,” ungkapnya.

Sayangnya, dengan 64 juta populasi UMKM di Indonesia, data yang dirilis Kemenkop UMKM menunjukkan 87 persen UMKM masih tertinggal dari segi digital. Maka, kenormalan baru ini bisa jadi titik balik bagi UMKM untuk mempelajari pentingnya adopsi digital untuk kelangsungan bisnis mereka.


Sumber :
https://id.techinasia.com/umkm-dan-teknologi-tetap-produktif-di-new-normal

Wednesday, June 10, 2020

Dua Bisnis UMKM Bangkit Setelah Diserang Corona

Dua Bisnis UMKM Ini Bangkit Setelah Diserang Corona, Apa Rahasianya?

Melemahnya perputaran konsumsi dan daya beli masyarakat akibat pandemi COVID-19 memberikan dampak yang sangat berat terhadap para pelaku UMKM. UMKM sektor fashion dan makanan pun dinilai jadi salah dua sektor yang terkena dampak paling buruk akibat adanya pandemi ini.

Hal itu pun turut dirasakan oleh pemilik toko Grosir Baju Keisha asal Bandung Anggi. Penjualan utama yang berasal dari toko offline dan online terpaksa menurun drastis semenjak imbauan PSBB diberlakukan bahkan menyebabkan kerugian tinggi, namun ia bisa bangkit. Lantas apa rahasianya?

Anggi pun menyadari bahwa usaha rumahannya ini harus melakukan adaptasi bisnis secara total untuk menyelamatkan bisnis dan karyawannya. Alhasil, produk hoodie dan outerwear remaja yang sebelumnya menjadi produk utama bisnisnya kian berganti menjadi baju anak-anak.

Ia pun mendaftarkan diri untuk ikut dalam program Shopee Indonesia bertajuk 'Dukungan COVID-19 100M Shopee', sehingga beban operasional bisnisnya sangat terbantu, terlebih karena toko online Grosir Baju Keisha di Shopee menjadi sumber pemasukan utama.

Baca juga: Rahasia di Balik Bisnis Startup Moncer di Tengah Pandemi Corona
"Dengan memanfaatkan bantuan Shopee ini secara maksimal, pemasukan saya berhasil meningkat hingga 35% selama periode Ramadhan," ungkap Anggi dalam keterangan tertulis, Selasa (9/6/2020).

Program 'Dukungan COVID-19 100M Shopee' sendiri merupakan bantuan stimulus bagi para pelaku UMKM agar mendapatkan tambahan modal dan keringanan biaya admin atau layanan untuk membantu para UMKM mempertahankan basis konsumen mereka.

Stimulus yang telah membantu lebih dari 200.000 pelaku UMKM ini telah berhasil membantu para pelaku UMKM di seluruh Indonesia untuk menjangkau basis konsumennya digital secara lebih luas

Selain program stimulus yang diberikan Shopee, Anggi merasa bisnisnya bisa tetap dapat jalan secara optimal berkat bantuan dari fitur-fitur aplikasi Shopee, terutama Shopee Live yang sangat cocok untuk menjajakan produk fesyen dengan harga miring berkualitas tinggi seperti yang ditawarkan Grosir Baju Keisha.

Meski sudah tidak rutin dilakukan karena keterbatasan karyawan, toko besutan Anggi ini bisa menjangkau rata-rata ribuan penonton dalam 1x sesi Shopee Live. Anggi menyadari, tidak semua pelaku UMKM bisa dengan cepat menciptakan peluang untuk bisnisnya. Daerah Cijerah, Bandung, di mana produksi dan toko offline Grosir Baju Keisha berlokasi, dikenal sebagai daerah yang sarat akan pengusaha konveksi. Melihat usaha di sekitarnya yang tak lagi memiliki pesanan sama sekali, ia tergerak hatinya untuk membantu mereka semampunya.

"Saya langsung memproduksi masker kain agar dapat membantu bisnis konveksi yang dijalankan oleh warga setempat. Dengan memanfaatkan toko online-nya di Shopee yang telah memiliki ratusan ribu pengikut, Anggi dapat membantu memberikan eksposur dan menyelamatkan bisnis konveksi di sekitarnya," bebernya.

Sementara itu, lain halnya dengan bisnis fashion yang dimiliki Anggi, bisnis makanan kemasan asal Cicendo, Bandung milik pasangan Sherly dan William justru meraup keuntungan yang cukup tinggi semenjak adanya pandemi. Meskipun demikian, keduanya mengaku terbentur kendala penyediaan stok yang cukup signifikan semenjak imbauan PSBB diberlakukan.

Distribusi yang terbatas dari supplier lantas membatasi ruang gerak toko Snack Mazter untuk dengan cepat memenuhi permintaan yang melonjak, terutama di bulan Februari di mana Sherly dan William merasakan dampak dari panic buying yang terjadi di masyarakat.

Tak hanya itu, asam garam dalam menjalankan bisnis di tengah pandemi pun dirasakan oleh pasangan ini. Berbekal tekad untuk menjaga bisnis dan keinginan untuk tetap memberikan Tunjangan Hari Raya (THR) untuk semua karyawannya, mereka memaksimalkan segala upaya yang mereka bisa agar dapat terus beroperasi di lokasi yang ditetapkan sebagai zona merah COVID-19 di Bandung.

Kebijakan kebersihan dan pemberlakuan shift kerja pun diterapkan karena mengutamakan keamanan untuk semua karyawannya. Alhasil, Sherly dan William juga terjun langsung membantu operasional bisnis mereka untuk mengatasi jumlah manpower yang terbatas ini.

Selain mengutamakan kesehatan karyawan, pasangan ini juga ingin membantu para pelanggannya dengan berupaya menyediakan roduk-produk makanan sehat dan bergizi. Sherly dan William mengaku sering berinteraksi dengan pelanggan mereka dengan menggunakan fitur live chat Shopee untuk menanyakan kebutuhan pangan sehat yang ternyata jadi peluang bisnis baru bagi mereka.

Penjualan sereal granola, produk makanan kesehatan yang jadi produk baru di toko Snack Mazter, berhasil tumbuh hingga 8X lipat, melebihi penjualan produk makanan tematik selama Ramadhan.

"Saya telah membuka gerai online di Shopee sejak empat tahun lalu, operasional bisnis Snack Mazter sangat terbantu dengan adanya bantuan program Dukungan COVID-19 100M Shopee. Berkat keringanan biaya admin Star Seller yang diberikan dari bantuan tersebut, pasangan ini bisa terus mendapatkan pesanan dari pelanggan dengan memanfaatkan eksposur di Shopee," terangnya.

Selain itu, perpanjangan masa pengemasan juga sangat membantu UMKM seperti Snack Mazter yang memiliki kendala dalam rantai distribusinya. Selama pandemi COVID-19 dengan dukungan dari Shopee, penjualan dari gerai online milik Sherly dan William ini berhasil meningkat hingga 3X lipat.

"Meski kami dapat bertahan di situasi sulit ini, kami tidak ingin berhasil sendirian. Kami yakin, para pelaku UMKM dapat melalui ini jika bergerak bersama. Kami berterima kasih karena dengan bantuan Shopee, kami dapat berbagi dan mendapatkan ilmu dengan sesama UMKM yang sedang berjuang mempertahankan bisnis melalui webinar untuk komunitas penjual yang diadakan oleh Kampus Shopee secara cuma-cuma." jelas William.

Diketahui, selain mendapatkan bantuan ekonomi, Shopee juga telah bekerja sama dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia (Kemendes PDTT) untuk mewadahi dan memberikan pelatihan bagi para UMKM di daerah-daerah.


Sumber :
https://finance.detik.com/solusiukm/d-5047297/dua-bisnis-umkm-ini-bangkit-setelah-diserang-corona-apa-rahasianya

Sunday, June 7, 2020

Perbedaan Bisnis B2B dan B2C

Perbedaan Mendasar Antara Dua Jenis Bisnis B2B dan B2C

Pengertian bisnis secara umum pasti tidak terlepas dari aktivitas produksi, pembelian, penjualan, serta pertukaran barang dan jasa yang melibatkan orang atau perusahaan. Sedangkan dalam konteks yang lebih sempit, pengertian bisnis sering dikaitkan dengan usaha, perusahaan, atau organisasi yang menghasilkan barang dan jasa untuk menghasilkan laba atau keuntungan.

Ketika sebuah bisnis dibangun, salah satu fokus utama yang perlu dimatangkan adalah target pasar. Menentukan target pasar dari bisnis adalah kunci untuk perkembangan bisnis karena model bisnis dan strategi untuk mengembangkan bisnis tersebut bergantung pada target konsumen mereka.

Ada dua jenis dasar bisnis yaitu Business to Business  (B2B) dan Business to Customer (B2C). ketahui secara lebih lengkap tentang perbedaan keduanya.

Tujuan Bisnis & Pihak Berkepentingan Dalam Bisnis
Perbedaan Mendasar Antara Dua Jenis Bisnis B2B dan B2CTujuan dari suatu bisnis adalah untuk melayani kebutuhan pelanggan dan mencoba untuk memperoleh laba. Pada umumnya, setiap orang menjalankan suatu bisnis karena melihat suatu kesempatan untuk menciptakan barang atau jasa yang belum ditawarkan oleh perusahaan lain. Selain itu juga dapat dipengaruhi oleh adanya keinginan untuk memproduksi barang yang lebih murah dibandingkan dengan perusahaan lain. Dengan demikian, kesempatan untuk mendapatkan laba dapat lebih terbuka karena dapat menyediakan barang dan jasa bagi konsumen. Adapun pihak-pihak yang berkepentingan dalam suatu bisnis ada lima. Yaitu pemilik (owner), kreditor (creditor), karyawan (employee), pemasok, (supplier) serta pelanggan (customer).

Mengenal Jenis-Jenis Bisnis
Perbedaan Mendasar Antara Dua Jenis Bisnis B2B dan B2CBusiness to Business merupakan sebuah transaksi bisnis yang dilakukan secara elektronik maupun fisik dan terjadi antara entitas bisnis satu ke bisnis lainnya. B2B merupakan penjualan produk atau jasa yang diberikan oleh satu bisnis dan diperuntukkan untuk bisnis lainnya, bukan kepada konsumen. Sebagai contohnya, Anda menjalankan bisnis yang menjual bahan makanan dan Anda melakukan penjualan ke restoran atau bisnis kuliner yang ada. Inilah yang disebut dengan B2B karena bisnis atau jasa Anda diperuntukkan untuk perusahaan lain, bukan langsung kepada perorangan atau grup.

Kebalikan dari Business to Business, Business to Customer  merupakan bisnis yang melakukan pelayanan atau penjualan barang atau jasa kepada konsumen perorangan atau grup secara langsung. Dengan kata lain, bisnis jenis ini berhubungan langsung dengan konsumen bukan perusahaan atau bisnis lainnya. Sebagai contohnya, Anda memiliki bisnis sembako. Ketika Anda menjual barang kepada konsumen perorangan, berarti bisnis Anda B2C. Akan tetapi jika Anda menjual sembako dalam jumlah besar kepada bisnis lainnya, berarti bisnis Anda adalah B2B. Pada umumnya, hampir semua produk B2C dapat menjadi produk B2B. Sedangkan produk B2B sangat sedikit digunakan oleh konsumen perorangan secara langsung.

Perbedaan Strategi Marketing B2B dan B2C
Perbedaan Mendasar Antara Dua Jenis Bisnis B2B dan B2CStrategi marketing Business to Business adalah bagaimana Anda dapat membuat calon pelanggan percaya terhadap kualitas brand Anda. Oleh karena itu, Anda harus memperkuat kualitas bisnis Anda. Bagaimana kualitas produk, kualitas pelayanan, hingga komunikasi dengan pelanggan Anda harus terus diperbaiki. Ketika pelanggan Anda adalah bisnis atau perusahaan lainnya,maka Anda harus membangun relasi yang cukup kuat di sektor bisnis ini.

Bisnis B2B dan B2C jelas mempunyai target marketing yang sangat berbeda. B2C memiliki target marketing perorangan atau grup, sedangkan Business to Business target marketingnya adalah bisnis atau perusahaan lain. Perbedaan lainnya adalah kemampuan pembelian antara B2C dan B2B sangat berbeda. Untuk B2C Anda tidak bisa memprediksi daya beli calon pelanggan, tetapi untuk B2B Anda bisa memiliki calon pelanggan yang mempunyai daya beli sangat tinggi. Hal ini dikarenakan target marketing Anda adalah perusahaan atau bisnis lain yang sudah besar dan tentu mempunyai uang yang cukup banyak.

Pada model bisnis B2C, Anda dapat membuat promosi di social media dan membuat website. Selain social media dan website, Anda juga dapat membuat strategi marketing iklan di media cetak atau brosur. Cara ini akan sangat berguna ketika Anda akan memasuki pasar baru. Sedangkan untuk target marketing B2B, para pebisnis atau perusahaan tidak akan langsung tertarik dengan produk yang Anda iklankan di internet atau brosur. Ketika volume pembelian yang dilakukan sangat tinggi, pebisnis atau perusahaan tersebut akan melihat secara detail seperti apa produk dan brand yang Anda miliki, bagaimana track record, bagaimana testimoni pelanggan lain dan hal-hal detail lainnya.

Perbedaan Perusahaan B2B dengan B2C
Perbedaan Mendasar Antara Dua Jenis Bisnis B2B dan B2CPerusahaan B2B lebih dekat pada sektor industri, sedangkan B2C lebih berfokus pada pengguna atau pelanggan. Pendekatan pemasaran digital pada kedua jenis perusahaan tersebut akan berbeda, yang terkait dengan karakter saluran pemasaran digital. Seperti B2C, mungkin lebih cocok menggunakan Facebook, Instagram, Twitter, dan Youtube untuk mendapatkan audience reach. Sedangkan perusahaan Business to Business dapat melakukan proses in bound pada target yang sudah mereka tetapkan untuk kemudian mendapatkan prospek-prospek berkualitas (qualified-leads). Berdasarkan hal tersebut, maka dapat dipahami perbedaan keduanya:

B2C lebih customer-centric, sedangkan Business to Business lebih berfokus pada industri.
Pendekatan social media berbeda diantara kedua jenis usaha tersebut, sehingga harus disesuaikan pada masing-masing karakteristik sosial media.

Konten pada website Business to Business dan B2C juga berbeda. Pendekatan konten Business to Business akan lebih berfokus pada edukasi. Serta berfokus pada apa yang dapat mendatangkan solusi untuk mendapatkan TRUST dan Call To Action.

Solusi dan referensi pengalaman lebih penting pada Business to Business dibanding pada B2C.
Social public relation tidak terlalu diperlukan pada jenis Business to Business. Namun pada B2C Social PR merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari program marketing secara keseluruhan.

Persamaan Pendekatan Dasar
Perbedaan Mendasar Antara Dua Jenis Bisnis B2B dan B2CDari berbagai perbedaan antara jenis Business to Business dan Business to Customer, terdapat juga beberapa pendekatan dasar yang sama. Diantaranya adalah penargetan, pembuatan konten, penyebaran informasi, dan monitoring. Oleh karena itu, pada dasarnya anggaran promosi di suatu perusahaan akan besar saat di awal, dan akan mulai mengecil setelah gebrakan awal mendapat konversi yang positif.


Kesimpulan
Jenis Business to Business (B2B) lebih menekankan fokus mereka kepada kualitas dari produk dan jasa yang ditawarkan. Kepercayaan dari pelanggan merupakan prioritas utama karena jenis Business to Business mementingkan konsep kerjasama yang berkelanjutan (retainer) dengan para pelanggannya.

Berbeda dengan Business to Business, jenis bisnis Business to Consumer(B2C) wajib mengutamakan jaringan yang luas untuk setiap lini bisnisnya, mulai dari pemasaran hingga distribusi produk karena semakin banyak pelanggan akan semakin baik untuk bisnis mereka.

Dengan membaca informasi di atas, diharapkan sebagai pengusaha Anda dapat membandingkan dua jenis bisnis sehingga dapat membuat strategi marketing yang tepat. Untuk membantu Anda dalam mengelola bisnis, Jurnal adalah solusi terbaik yang dapat Anda pilih. Jurnal hadir dengan fitur terbaik untuk menunjang kesuksesan bisnis Anda. Dengan menggunakan layanan software akuntansi online Jurnal, Anda akan lebih mudah dan praktis dalam mengelola keuangan bisnis Anda. Data pada Jurnal telah tersimpan di cloud, sehingga Anda akan lebih mudah untuk memonitor laporan keuangan secara realtime.


Sumber :
https://www.jurnal.id/id/blog/perbedaan-bisnis-b2b-dan-b2c/#:~:text=B2B%20merupakan%20penjualan%20produk%20atau,atau%20bisnis%20kuliner%20yang%20ada.